SIMULASI: Petugas Satpol PP berusaha mengendalikan pengunjuk rasa yang mulai bertindak anarkis dan berusaha merangsek masuk ke halaman gedung Balai Kota Semarang, Kamis, (13/8) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIMULASI: Petugas Satpol PP berusaha mengendalikan pengunjuk rasa yang mulai bertindak anarkis dan berusaha merangsek masuk ke halaman gedung Balai Kota Semarang, Kamis, (13/8) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BALAI KOTA – Unjuk rasa para Pedagang Kaki lima (PKL) dan Pekerja Seks Komersial (PSK) Sunan Kuning (SK) di kantor Balai Kota Semarang, Kamis, (13/8) kemarin, berakhir bentrok. Bahkan, salah seorang petugas Satpol PP Kota Semarang yang turut mengamankan demo tersebut, mengalami luka sobek pada bagian pelipis kiri matanya akibat terkena lemparan benda keras.

Dalam pantauan Jawa Pos Radar Semarang, para pendemo yang berjumlah ratusan itu semula berjalan damai. Mereka sengaja menduduki pintu gerbang Balai Kota Semarang sejak pukul 10.00, memprotes tindakan petugas Satpol PP Kota Semarang yang menggaruk lapak dagangannya.

Para pendemo juga membawa berbagai tulisan yang bernada kecaman yang berisi, Lindungi Orang Miskin, Gusur=Wong Miskin Telantar, Jangan Gusur Kami dan Satpol PP Jangan Gusur Kami, Ini Tempat Hidup Kami. Selain itu, para pendemo juga meneriakkan suara PKL Bersatu Tidak Bisa Dikalahkan.

Namun aksi unjuk rasa tersebut memanas, lantaran para pengunjuk rasa tidak diperkenankan masuk ke halaman Balai Kota Semarang. Mereka berusaha merangsek ke halaman Balai Kota dengan melakukan aksi adu dorong antara petugas satpol PP dengan para pendemo. Akibatnya, bentrokan tak terhindarkan. Kondisi itu diperparah dengan ulah para pengunjuk rasa yang melakukan lemparan batu ke arah petugas satpol PP.

Akibatnya, salah seorang petugas satpol PP bernama Kasman mengalami luka robek pada bagian pelipis kiri karena terkena lemparan batu yang dilakukan oleh peserta unjuk rasa. ”Pelipis saya berdarah, terkena lemparan benda keras dari para pendemo. Ini sudah menjadi risiko seorang petugas dalam menjalankan tugas,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (13/8) kemarin.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro P Martanto mengatakan bahwa bentrokan demo tersebut merupakan kegiatan simulasi yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Semarang dalam puncak latihan mengatasi aksi demonstrasi. Menurutnya, kegiatan simulasi tersebut dilakukan dua kali dalam satu tahun.

”Kegiatan ini salah satunya untuk bimbingan teknik (bintek) yang dilakukan oleh anggota satpol PP yang dilatih oleh Brimob. Ini merupakan puncak praktik di lapangan. Jadi seluruh anggota dibekali penanganan, apabila ada unjuk rasa. Ada sekitar 300 orang yang terlibat dalam simulasi ini termasuk 75 anggota dari kami dan dibantu oleh masyarakat umum,” katanya.

Menurutnya, anggota juga dibekali dasar-dasar prosedur atau ketentuan penanganan unjuk rasa. Menurutnya, tindakan awal yang dilakukan satpol PP adalah melakukan negosiasi atau tindakan persuasif dan musyawarah untuk menghindari tindakan kekerasan. ”Sehingga ada rambu-rambunya. Hijau artinya damai, kuning suasana memanas dan merah artinya terjadi kekerasan. Jadi ada komando instruksi. Awalnya dari komandan regu, komandan kompi dan terakhir kasat atau pimpinan. Sehingga harapan kami dengan adanya simulasi ini, anggota memiliki keahlian dalam penanganan,” terangnya. (mha/ida/ce1)