TERPIKAT: Ignatius Igas saat melukis di sudut kawasan Kota Lama Semarang, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERPIKAT: Ignatius Igas saat melukis di sudut kawasan Kota Lama Semarang, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ignatius Igas, pelukis asal Bali ini mengaku takjub melihat eksotisme Kota Lama Semarang. Ia bercerita kepada publik dengan caranya di atas kanvas. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PESONA sejumlah bangunan kuno di kawasan Kota Lama Semarang tetap menyimpan keindahan yang istimewa dan sulit tergantikan. Seorang pelukis asal Bali, Ignatius Igas, mengakui eksotisme Kota Lama Semarang luar biasa. Alih-alih jalan-jalan menikmati sudut-sudut Kota Semarang, pelukis yang juga salah satu peserta pameran Pazaar Seni 2015 itu kesengsem keindahan Kota Lama. Secara spontan, ia bersama teman-temannya melukis lekuk-lekuk keindahan Kota Lama.

Kamis pagi (13/8) yang sejuk kemarin, Igas bersama teman-teman pelukis asal Bali langsung memasang kanvasnya di jalanan terbuka. Para pelukis itu berpencar mencari objek bangunan Kota Lama dan membiarkan jari tangannya menari bebas di atas kanvas.

”Ini spontan saja. Kami iseng jalan-jalan ke Kota Lama. Spontan terinspirasi untuk melukis Kota Lama. Bangunan tua di Kota Lama Semarang ini sangat luar biasa,” kata Igas saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang.

Selama kurang lebih lima jam, mereka asyik melukis di antara lalu-lalang kendaraan melintas.

”Kami melukis menggunakan kanvas dan cat akrilik, supaya cepat kering untuk dibawa pulang,” kata pria yang tinggal di Jagapatih Perum Bhayangkara Bale Nuansa Asri Blok 5 No C-69 Br Pasek Kabupaten Badung, Bali itu.

Menurutnya, melukis di tempat terbuka lebih menantang. Karena berhadapan dengan hal yang nyata.

”Saya sangat senang sekali. Di Semarang masih banyak ikon sejarah yang diabadikan. Gedung-gedung tua ini masih utuh dan dijaga. Ada Kantor Pos dalam bentuk bangunan lama, Gereja Blenduk yang sangat eksotis. Bentuk bangunan kuno di sini masih utuh,” ujarnya kagum.

Dia mengaku, ketakjubannya melihat eksotisme Kota Lama sangat eman jika tidak diabadikan. ”Saya bangga, inilah Indonesia. Sebuah keindahan bangunan sejarah yang harus terus dirawat. Jangan sampai dibongkar karena tergiur uang. Ini wisata destinasi yang luar biasa. Saya melukis hanya ingin bercerita ke semua orang bahwa ini sejarah Indonesia,” bebernya.

Dikatakannya, setiap ide yang muncul dari pelukis benar-benar dari hati. Total menempuh jalur hidup sebagai pelukis. Ide bisa muncul kapan saja dan tidak mengenal waktu. ”Setiap karya harus jujur. Pelukis harus serius dan jujur terhadap karyanya. Saya sendiri total menjadi pelukis, memutuskan tidak memiliki pekerjaan lain selain pelukis,” katanya.

Ia mengaku profesi sebagai pelukis tetap bisa diandalkan secara profesional. Di Bali, ia mengaku bekerja secara aktif dan selalu berkarya setiap hari. ”Setiap hari, ide selalu ada di pikiran. Saya bersyukur bisa menghidupi keluarga saya dari melukis,” ujar pria yang melukis pertama sejak kelas IV SD itu.

Dalam melukis, Igas mengaku tidak memiliki guru. Melukis baginya buat pikiran dan merupakan karakter alamiah bagi pelukisnya yang jujur. ”Saya tidak pernah punya guru. Bisa melukis dengan otodidak. Kalau dulu sewaktu masih SD, suka melukis pemandangan dan orang-orang. Namanya juga anak-anak,” katanya.

Hal itu memengaruhi saat ini, ia lebih memilih jenis lukisan naturalisme. Ide-idenya lebih banyak mengambil hal-hal yang bersifat alamiah. Baik dari unsur manusia, alam, hewan. ”Saya suka melukis figur, bentuk manusia,” ujar pria yang menggeluti seni lukis secara profesional sejak 1997 silam itu.

Menurutnya, sebenarnya semua orang bisa melukis. Sebab, setiap manusia memiliki pemikiran dan imajinasi. ”Semua orang bisa jadi pelukis dan memiliki gayanya masing-masing. Tidak ada lukisan jelek. Semua lukisan bagus. Saya tidak pernah menilai lukisan orang lain jelek,” kata ayah dua anak yang berulang tahun setiap 30 April ini.

Sederet pengalaman keliling di Indonesia pernah dilakoni. Ia mengaku terus belajar dan membangun jaringan dengan sesama perupa di seluruh Indonesia. Menurutnya, event Pazaar Seni 2015 di Kota Semarang merupakan kegiatan yang mengangkat seni rupa di Indonesia.

”Acara seperti Pazaar Seni di Semarang harus dipertahankan. Ini sangat mengangkat seni rupa di Indonesia, khususnya di Kota Semarang,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Igas, respons masyarakat Kota Semarang cukup bagus. Namun klasifikasinya masih tahap penjajakan untuk mengetahui seluk-beluk seni rupa. ”Semarang termasuk kota besar. Memang masyarakat di sini masih termasuk dalam tahap penjajakan. Namun secara umum responsnya cukup baik,” katanya. (*/aro/ce1)