MAJELIS hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang menjatuhkan vonis 1 tahun 8 bulan (20 bulan) penjara kepada petugas kebersihan sebuah rumah sakit di Kota Semarang, Tri Purwanti, terkait kasus dugaan aborsi, Kamis (13/8). Majelis hakim menyatakan terdakwa bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 77 huruf a ayat 1 Undang-Undang Nomor 35/ 2014 tentang Perlindungan Anak.

”Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Tri Purwanti selama 1 tahun dan 8 bulan penjara. Menetapkan terdakwa tetap berada dalam tahanan,” ujar majelis hakim yang dipimpin, Eni Indriyartini.

Selain hukuman penjara, wanita yang kos di Jalan Wonodri Sendang, Semarang ini juga dipidana denda Rp 3 juta setara 1 bulan kurungan. Vonis yang dijatuhkan ini lebih rendah dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Diajeng Kusuma Ningrum, yakni 2 tahun 6 bulan serta pidana denda Rp 3 juta setara 2 bulan kurungan.

Atas putusan tersebut, terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Windy Aryadewi, menerimanya. Sementara JPU menyatakan masih pikir-pikir. ”Kami pikir-pikir yang, Mulia,” kata Diajeng.

Usai sidang, Windy mengatakan, kliennya melakukan aborsi karena terpaksa. ”Kondisi dan tekanan ekonomi yang sangat membebani klien kami. Selain itu, klien kami juga menyatakan menyesal dan telah berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” kata Windy.

Seperti diketahui, kasus aborsi ini terjadi pada 22 November 2014 sekitar pukul 01.30 di rumah kos Jalan Wonodri Sendang, Semarang. Terdakwa merupakan tulang punggung keluarga yang memiliki lima anak. Ia diketahui hamil tanpa ada pasangan resmi.

Awalnya, pada Oktober 2014 Tri Purwanti berupaya melakukan aborsi dengan minum jamu daun pepaya, kunir asem, dan sirih. Namun usahanya itu tidak membuahkan hasil. Janin tetap hidup dan terus berkembang. Pada 21 November 2014 sekitar pukul 17.00, terdakwa sepulang bekerja membeli obat terlambat datang bulan di Pasar Karangayu agar kandungannya keguguran.

Obat itu diminumnya hingga akhirnya perutnya bereaksi dan merasakan mulas. Pada Minggu (23/11 2014) pukul 01.30, terdakwa berhasil mengeluarkan janinnya dan sempat tak sadarkan diri. Dalam kondisi tidak sadar, ia dibawa rekannya ke RS Roemani. Bayi yang dilahirkan akhirnya meninggal. (jks/aro/ce1)