MINIM: Terlihat siswa salah satu kelas di SMA N 12 Semarang tengah serius mendengarkan penjelasan dari guru ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MINIM: Terlihat siswa salah satu kelas di SMA N 12 Semarang tengah serius mendengarkan penjelasan dari guru ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PELAKSANAAN sekolah lima hari sepertinya memang harus dikaji, karena masih banyak kendala yang ditemui di lapangan. Antara lain beberapa sekolah masih belum memiliki fasilitas peribadatan dan kantin yang dapat menampung kebutuhan siswa. Padahal tempat ibadah dan kantin merupakan fasilitas pendukung dari pelaksanaan sekolah lima hari.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan saat ini pelaksanaan sekolah lima hari masih dalam tahap supervise. Ia mengakui jika dalam supervise tersebut beberapa persoalan ditemui, antara lain kebutuhan fasilitas pendukung. ”Beberapa temuan memang sudah ada. Yang pailing banyak yaitu kebutuhan untuk kantin. Banyak yang sekolah kurang kantinnya. Namun hal itu bisa disikapi oleh kepala sekolah, yaitu anak-anak diminta membawa bekal dari rumah,” kata Bunyamin saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (12/8).

Karena beberapa sekolah yang melaksanakan sekolah lima hari, pada Jumat banyak yang hingga sore, maka tempat peribadatan menjadi fasilitas yang harus dipenuhi sekolah. Karena siswa dapat melaksanakan salat Jumat di sekolah, sembari menunggu jam pelajaran berikutnya dimulai.

”Tempat ibadah juga ada yang kurang. Karena jumlah siswa yang banyak, sehingga banyak sekolah yang menyiasati membuat dua tempat ibadah. Banyak aula yang juga difungsikan menjadi tempat ibadah. Sekolah lima hari, banyak sekolah yang pada hari Jumat masuk hingga sore hari. Sehingga kegiatan salat Jumat harus dilakukan di sekolah. Ada pula beberapa sekolah yang kegiatan pembelajarannya sudah selesai sebelum waktu salat Jumat,” katanya.

Kebutuhan air pada pelaksanaan sekolah lima hari juga meningkat. Beberapa sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan air kepada siswa. Penambahan jumlah keran air merupakan salah satu solusinya. Keran air tersebut, kata Bunyamin dapat digunakan untuk mengambil air wudu dan kebutuhan yang lainnya. ”Beberapa sekolah seperti SMA N 6 sudah menambah jumlah keran air menjadi 24 titik. Kelihatannya memang sepele, namun jumlah keran air di sekolah jika kita perhatikan sangatlah sedikit. Dengan jumlah yang sedikit itu, apa mungkin kebutuhan air siswa dapat terpenuhi,” tuturnya.

Untuk ruang kelas dan laboratorium hingga kini, ungkap Bunyamin, belum menemui kendala sehingga semua bisa digunakan untuk menunjang belajar mengajar. Dengan kondisi fasilitas yang berbeda-beda tersebut, sekolah kini harus mulai bisa menyesuaikan. ”Untuk struktur kurikulum sudah sama dan tidak ada masalah. Ke depan penerapan sekolah lima hari ini positif dan bagus untuk dilakukan. Tentu kita semua masih butuh penyesuaian,” ungkapnya.

Untuk jenjang SMA, pelaksanaan sekolah lima hari belum menyeluruh dilakukan. Terutama beberapa sekolah swasta yang kini ada juga yang belum melaksanakan sekolah lima hari. Memang ada beberapa sekolah swasta yang sudah melakukan sekolah lima hari. Namun jumlahnya masih sedikit. ”Setiap kabupaten dan kota memiliki problem masing-masing terhadap pelaksanaan sekolah lima hari. Sehingga tidak dapat digeneralisasi. Seperti halnya sekolah, sekolah itu memiliki problematika masing-masing sehingga tidak bisa kita generalisir,” tutur Bunyamin.

Terpisah, Kepala SMA N 12 Kota Semarang, Khoirul Imdad mengatakan fasilitas pendukung pelaksanaan sekolah lima hari di sekolahnya belum menemukan kendala. Seperti halnya suplai makanan di sekolah. ”Untuk jumlah kantin, yang berguna menjadi suplai makanan untuk siswa, selama ini belum ada masalah. Bahkan kini banyak siswa yang lebih memilih membawa bekal dari rumah ketimbang saat istirahat membeli makanan di kantin,” kata Khoirul.

Beban belajar siswa untuk kelas 10 dalam seminggu sebanyak 38 jam, sekolah bisa menambah maksimum 4 jam pelajaran. Seandainya sekolah tidak menambah, siswa bisa dipastikan pulang lebih cepat khusus pada hari Jumat. ”Karena kami tidak ada masjid yang mampu menampung siswa maka, kegiatan belajar mengajar pada Jumat kita selesaikan sebelum waktu Jumatan. Jam 11.45 mereka sudah bisa pulang. Kegiatan ekstrakurikuler setelah mata pelajaran selesai,” tuturnya.

Keuntungan lain, kata dia, jika biasanya siswa pulang pada pukul 13.30, banyak waktu mereka terbuang percuma. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya siswa yang memilih tongkrong dan masih memakai baju seragam sekolah. Waktu luang tersebut jika digunakan untuk hal yang positif seperti penambahan jam pelajaran lebih bagus lagi. ”Karenannya pelaksanaan sekolah lima hari sudah tepat. Hanya saja kita masih memikirkan beberapa fasilitas pendukung. Jika dibandingkan belajar enam hari lebih efektif 5 hari sekolah,” katanya. (ewb/zal/ce1)