SPESIALIS BEBEK: Agus Salim dan salah satu lukisan bebeknya. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SPESIALIS BEBEK: Agus Salim dan salah satu lukisan bebeknya. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Seniman selalu punya idealis tinggi. Seperti Agus Salim alias Agus Bebek. Ia rela berhenti bekerja di salah satu bank ternama, dan memilih menjadi pelukis. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA BUSTAMAN

BAGI Agus, menjadi pegawai di sebuah perusahaan besar tidak bisa memberi jaminan hidup layak. Bekerja ikut orang dirasa tidak bisa leluasa dibanding punya usaha sendiri. Karena itu, Agus pun memutuskan untuk resign dari sebuah bank ternama pada 2009 silam, dan memutuskan total di dunia seni lukis. Padahal ia sudah berkarir di bank tersebut selama 10 tahun.

”Kerja ikut orang itu banyak aturan. Kalau seperti ini kan kita yang mengatur sendiri,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski bekerja sendiri, bukan berarti Agus lantas bermalas-malasan. Ia telah berjanji untuk menjadi seniman profesional yang mampu menghasilkan profit demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Semangat ayah dua anak ini masih terus dijaga dengan selalu melahirkan karya nyaris saban pekan.

”Alhamdulillah, kalau mau berusaha keras, pasti diparingi rezeki. Buktinya, dari hasil melukis, saya bisa menyekolahkan dua anak saya sampai perguruan tinggi. Yang pertama malah masuk di Fakultas Kedokteran,” ujar pelukis yang pernah menggelar pameran di Italia pada 2007 silam ini.

Ketika punya ide, Agus langsung mencari kanvas serta piranti melukis lainnya. Dia mencorat-coret kanvas tersebut dengan cat minyak. Mengalir begitu saja. Kalau merasa capek, dia akan berhenti sejenak, dan akan kembali meneruskannya ketika ada waktu.

”Melukis itu bukan masalah mood-mood-an. Kalau profesional, mood atau tidak, harus bisa berkarya. Lukisan itu kan masalah rasa. Jiwanya harus bersih,” katanya.

Rata-rata Agus menyelesaikan setiap karyanya dalam kurun waktu satu pekan atau lebih tergantung ukuran kanvas dan tingkat kesulitannya. Bahkan, ada lukisan yang mulai digarap sejak 2011 silam sampai sekarang belum selesai. Dia beralasan, ide yang kali pertama muncul sudah agak lupa.

Agus mengaku pernah melukis di kanvas dengan ukuran 2,25×1,5 meter. Lukisan terbesar berjudul Mau Terbang itu kini nangkring di salah satu sudut dinding di rumahnya. Sebenarnya, nama Agus sudah beredar di kancah nasional ketika dia duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri Magelang. Kesukaannya mencorat-coret menggunakan pensil menarik media cetak Suara Karya untuk memuat karya-karyanya.

”Kalau tidak salah, itu tahun 1981. Saya sudah diminta redaksi Suara Karya untuk membuat sket tokoh-tokoh terkenal dari pensil,” paparnya.

Di telinga para seniman, Agus lebih santer disebut pelukis bebek. Pasalnya, nyaris semua karyanya merupakan lukisan bebek. Hal itu memang dilakoni Agus sejak 2002 silam.

”Sampai sekarang, saya memang lebih sreg melukis bebek. Bukan karena gampang, tapi bebek itu punya nilai filosofi yang dalam. Makanya, nama saya dikenal jadi Agus Bebek,” ucapnya sambil tersenyum.

Dari kacamatanya, bebek adalah unggas yang bisa satu komando, guyub, rukun, kompak, sekaligus bisa jadi tambang emas. Ya, bebek dianggap mampu membantu perekonomian pemiliknya lantaran mampu menghasilkan telur saban hari tanpa obat kimia.

”Demi menjiwai bebek yang sudah menjadi ikon lukisan, saya memelihara sekitar 300 ekor di sebelah rumah. Ternyata, satu bebek kalau sehat, bisa bertelur setiap hari selama setahun tanpa henti,” kata pria kelahiran Magelang, 11 Agustus 1967 ini.

Pemilik Galeri di Jalan Jenderal Sudirman 161 Langensari, Ungaran ini mengaku, lukisannya pernah dibeli Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika masih menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia pada 2007 lalu. SBY tertarik dengan lukisan Agus yang berjudul Pulang Kandang itu dengan harga Rp 40 juta. Uang mahar karya yang digarap pada 2006 itu langsung digunakan Agus untuk berangkat haji. ”Jadi, saya ini berangkat haji berkat bebek,” ucapnya disertai gelak tawa. (*/aro/ce1)