MANYARAN – Direktur CV ESPERO, Rakhmat Setiadi dinyatakan bebas dan tidak bersalah atas kasus dugaan korupsi proyek rehabilitasi/overhaul lift di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Semarang. Dia juga memastikan tidak akan menuntut apa-apa terhadap status yang pernah disandangnya sebagai tersangka atas kasus tersebut.

Saat ini, Rakhmat dipastikan bebas dan tidak bersalah, pasalnya putusan Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi dari jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Semarang. Rakhmat pun dinyatakan bebas. ”Sekarang sudah lega. Tapi, saya butuh waktu untuk memulihkan nama baik dan pandangan tetangga dan masyarakat lain. Saya berharap mereka tidak mengecap saya lagi sebagai koruptor,” kata Rakhmat, di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (12/8).

Putusan kasasi MA tersebut keluar pada Mei 2014 lalu. Namun, petikan atau salinan atas putusan baru diperoleh tim penasihat hukum Rakhmat, beberapa waktu lalu. Saat ditanya apakah merasa menjadi korban atas penanganan kasus, baik Rakhmat maupun penasihat hukumnya menjawab iya. Namun dirinya memastikan tidak menuntut apa pun. ”Masyarakat cukup tahu, saya tidak bersalah, nggak minta lebih. Proses hukum yang sebelumnya, ya sudah dilupakan saja, kita tak menuntut apa pun,” kata Rakhmat pelan.

Warga Jalan Sidodrajat Raya, No 37 RT/RW 9/3 Kelurahan Harja Mukti, Kecamatan Semarang Timur yang saat ini tinggal di Tangerang itu menjelaskan, ketika dirinya ditetapkan sebagai tersangka pada proyek tersebut, disebutkan CV ESPRO menjadi pengawas proyek. ”Padahal, CV saya itu dipinjam temen tanpa sepengetahuan saya. Setelah dijadikan tersangka, nama baik saya hancur, pekerjaan juga berantakan, dan yang paling berat adalah pandangan miring tetangga ke saya dan keluarga. Padahal saya tidak terlibat kasus itu,” ungkapnya sedih.

Penasihat hukum Rakhmat, Choirul Anwar mengatakan, kliennya Rakhmat Setiadi ditetapkan tersangka pada 2011. Kliennya dianggap sebagai pengawas pekerjaan padahal perusahaannya dipinjam orang lain.

Setelah kasusnya dilimpahkan dan disidang di Pengadilan Tipikor Semarang, ia dijadikan terdakwa dan divonis bersalah dengan pidana penjara selama 1 tahun, pada April 2011. Namun, lanjut Choirul Anwar, putusan tersebut diketahui jauh di bawah tuntutan jaksa yang menuntut pidana penjara selama 6,5 tahun. Oleh karenanya, jaksa kemudian menyatakan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jateng, pada 2012.

”Di Pengadilan Tinggi, klien kami (Rakhmat) dinyatakan tidak bersalah dan bebas. Alasannya, klien kami tidak terlibat dan tidak tahu pekerjaan itu. Sedangkan CV yang digunakan itu dipakai temannya tanpa sepengetahuannya,” kata Choirul Anwar didampingi Paulus Sirait. (jks/zal/ce1)