Debat, Tiga Cawalkot Ditodong Sumbangan

301
AKUR: Tiga calon Wali Kota Semarang Soemarmo HS, Hendrar Prihadi dan Sigit Ibnugroho bertemu saat dialog budaya yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), sore kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKUR: Tiga calon Wali Kota Semarang Soemarmo HS, Hendrar Prihadi dan Sigit Ibnugroho bertemu saat dialog budaya yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), sore kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TEGALSARI – Dialog budaya yang menghadirkan tiga calon wali kota (cawalkot) yang digelar Dewan Kesenian Semarang (Dekase) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Rabu (12/9) sore kemarin, ternyata hanya balutan untuk mencari sumbangan. Selain meminta sumbangan, dalam kegiatan tersebut Dekase juga terlihat tidak fair. Muncul dugaan jika Dekase mengarah dukungan ke salah satu calon.

Debat kandidat wali kota ini digelar relatif singkat, mulai pukul 16.15 sampai 17.15. Pada sesi pertama masing-masing calon diberi kesempatan oleh moderator, Achiar M Permana, memberi sambutan singkat mengenai seni dan budaya yang ada di Kota Semarang. Berikutnya, budayawan yang diwakili Jawahir Muhammad dan seniman diwakili Teguh Hadi Prayitno diminta untuk melontarkan harapannya kepada para calon dalam memajukan seni budaya di Kota Semarang.

Nah, di sela dialog itu, Ketua Dekase Mulyo Hadi Purnomo justru secara blak-blakan meminta sumbangan kepada ketiga kandidat wali kota yang untuk kali pertama bisa berkumpul di satu tempat, bahkan saling bersalaman.

Mulyo menyatakan bahwa event Pazaar Seni yang digelar di TBRS, 8-16 Agustus itu, tengah mengalami kekurangan dana. Sontak, pernyataan Ketua Dekase itu menjadi cibiran sejumlah penonton dan awak media. “Oalah, intinya dialog ini rupanya hanya minta sumbangan saja tho,” celetuk salah seorang peserta dialog.

“Iso-isone (bisa-bisanya) di sini kita berharap ada dukungan (perkembangan seni budaya di Semarang) malah minta sumbangan,” ujar Achiar, sang moderator menyindir sikap Ketua Dekase.

Dengan memanfaatkan kegengsian ketiga cawalkot, Mulyo pun melempar semacam lelang. Barang siapa yang mau menutup kekurangan tersebut, berarti dialah cawalkot yang memang pro dengan para seniman dan budayawan Semarang.

”Bagi yang mau menutup kekurangan ini, kami akan memberikan sebuah lukisan sebagai kenang-kenangan,” katanya sambil menunjuk sebuah lukisan yang masih tertutup selembar kain hitam.

Sayang, lelang tersebut terbilang kurang fair. Setiap cawalkot ditanya secara langsung dan disuruh mengucapkan nominal uang sumbangan secara lisan dengan satu kali kesempatan. Praktis, yang ditanya terakhir, pastilah melemparkan bid tertinggi yang otomatis jadi pemenang lelang.

Yang ditanya pertama adalah Soemarmo HS. Lantaran ”ditembak” kali pertama, mantan Wali Kota Semarang 2010-2012 itu hanya berani Rp 25 juta. Sementara Sigit Ibnugroho yang ditanya kedua berani melipat gandakannya menjadi Rp 50 juta.

Giliran Hendrar Prihadi atau yang lebih akrab disapa Hendi, dijawab cukup kalem. ”Sebenarnya ini kurangnya berapa, tho?” ucapnya balik bertanya.

Sontak, massa cawalkot dengan tagline Semarang Hebat yang mendominasi kursi penonton langsung berteriak riuh. Mereka mendorong Hendi untuk menutup semua kekurangan yang diinginkan Dekase. Bahkan, salah seorang pendukung Hendi meminta uang kepada pendukung lainnya untuk membantu mengumpulkan dana untuk turut menutup kekurangan tersebut.

Sebelum Hendi menyebutkan nominal, Mulyo justru membuka reng-rengan dana dan membacakan jumlah dana yang kurang untuk membayar even Pazaar Seni. ”Di sini, tertulis Rp 60.700.000. Angka ini asli. Kami tidak merekayasanya,” papar Mulyo.

Begitu tahu nominal kekurangan tersebut, praktis Hendi melempar bid sesuai angka yang tertera. Lucunya lagi, setelah deal, ternyata lukisan itu bergambar inisial H. Entah berarti Hendi atau apa pun, yang jelas, ini dianggap semacam setting-an belaka agar Dekase mampu meraup banyak keuntungan.

Kegiatan itu pun menjadi cibiran masyarakat, utamanya yang saat itu berada di lingkungan TBRS. “Kalau memang menggelar dialog budaya atau debat calon wali kota. Audiensnya masyarakat umum yang mempunyai hak pilih, sehingga masyarakat bisa menilai ketika si calon mendapat pertanyaan kemudian cara menjawabnya seperti apa. Bukan malah pendukungnya. Kalau saya menilai dialog ini tidak efektif,” kritik Agus Winarto, warga Semarang yang saat itu ingin melihat jalannya debat. “Saya ke sini itu sudah memiliki interpretasi kalau yang lihat itu masyarakat umum banyak. Tapi kok ternyata para pendukung saja,” tambah Ketua PABSI Jateng ini.

Saat dimintai tanggapannya terkait dialog budaya tersebut, calon wali kota Soemarmo HS mengatakan, ketika kekurangan kegiatan itu dilelangkan, dia menyatakan tidak ikut lelang. Namun dia tetap membantu kekurangan biaya kegiatan tersebut.

“Kekurangannya berapa saya akan damping, pengertian saya, setelah dari saya itu yang lain menutup kekurangannya. Tapi, ternyata Pak Sigit justru ikut lelang. Semestinya kalau memang lelang, itu diambil yang tertinggi,” kata Soemarmo yang mengaku meski kekurangan tersebut sudah ditutup oleh Hendi yang memberi tawaran tertinggi. Namun pihak panitia tetap menagih nilai yang disebutkan Soemarmo.

Hal sama dikatakan Sigit Ibnugroho. ”Saya lebih kaget lagi. Jumlah yang saya sebutkan tadi, ditagih sama panitia. Padahal kan lelangnya dimenangkan Pak Hendi,” kata Sigit ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang usai acara.

Ironisnya lagi, lanjut Soemarmo, dalam lukisan yang disiapkan Dekase ternyata tertulis huruf ‘H’, yang bisa jadi inisial nama salah satu calon wali kota yang akan berlaga dalam Pilkada 9 Desember mendatang.

“Kegiatan tadi (kemarin sore) sangat bagus, tapi saya melihat sesuatu yang terselubung. Ternyata lukisan itu ada tulisan H, bukan mempersoalkan uangnya. Perlu sebuah pertanyaan besar dengan lukisan huruf H itu, mestinya dari Dekase dan panitia jelaskan kepada kandidat (kenapa harus H). Silakan masyarakat yang menilai apakah ini ada sesuatu atau tidak. Kita berharap seniman jangan terbawa-bawa politik,” tandasnya. (amh/zal/aro/ce1)

Silakan beri komentar.