Pedagang Tidak Berjualan

164

SALATIGA – Harga daging sapi di Salatiga selama beberapa pekan terakhir melambung hingga Rp 100 ribu per kilogram. Harga ini naik sebesar Rp 5.000 per kg dari harga sebelumnya senilai Rp 95 per kg. Akibatnya, tidak jarang penjual memilih tidak berjualan lantaran jumlah konsumen menurun karena merasa keberatan dengan harga.

Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Raya I Salatiga, Zuhriyah, 56 mengaku jika kenaikan harga disebabkan stok sapi yang disembelih minim. Sehingga stok daging sapi di pasaran juga tidak banyak. “Kelangkaan sapi siap sembelih ini terjadi sejak pasca lebaran lalu. Itu terjadi karena peternak enggan menjual sapi peliharaannya,” kata Zuhriyah.

Ia menambahkan, pemilik sapi lebih memilih menjual sapinya menjelang hari Raya Idul Adha nanti lantaran harganya lebih tinggi dibanding hari biasa. Kondisi ini membuat pedagang daging sapi terpuruk. Omzet penjualan anjlok karena stok daging menurun. Disisi lain, meski harga hanya naik Rp 5.000 banyak konsumen yang merasa keberatan sehingga penjualan menjadi sepi. “Sejak harga naik, penjualan jadi sepi dan omzet penjualan turun drastis,” imbuhnya.

Pedagang lain, Surami, 50, mengatakan, pedagang terpaksa menaikkan harga lantaran harga kulakan naik. “Harga kulakan naik. Jika saya tidak menaikkan harga jual, ya rugi. Maka dari itu, saya naikkan agar tidak merugi,” katanya.

Mahalnya daging sapi ini sudah disiasati para warga dengan tidak mengkonsumsi daging sapi. Terlebih dengan harga kebutuhan pokok yang cenderung naik sehingga masyarakat lebih selektif dalam mengeuarkan uangnya. “Sekarang banyak harga bahan pokok naik. Kalau harga daging sapi ikut naik, saya memilih untuk tidak membeli daging sapi atau mengurangi jumlah pembelian,” tambah Yati, 42, warga Cabean, Mangunsari, Sidomukti. (sas/fth)