Dalang Cilik Lihai Mainkan Wayang

227
ATRAKTIF: Salah Seorang Dalang Cilik Tunjukkan Keahilan Dalam Bermain Wayang. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATRAKTIF: Salah Seorang Dalang Cilik Tunjukkan Keahilan Dalam Bermain Wayang. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Semakin melunturnya minat generasi muda untuk nguri-nguri wayang, membuat sejumlah kalangan prihatin. Pemkab Kendal bekerjasama dengan Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Kabupaten Kendal turun tangan dengan menggelar Lomba Dalang dan Parade Dalang Bocah dan Remaja. Hasilnya cukup menggembirakan, setidaknya ada 17 peserta mulai dari SD sampai SMA mengikuti kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut Senin hingga Selasa (10-11/8).

Panitia acara Kunarto Nartokusumo, mengatakan, kegiatan dilakukan sebagai upaya melestarikan budaya jawa terutama bidang wayang yang semakin terkikis. Peserta lomba merupakan siswa sekolah dasar hingga tingkat remaja. “Total ada 17 peserta yang ikut dalam lomba kali ini, “katanya, kemarin.

Ia menambahkan, lomba tersebut merupakan tolak ukur regenerasi dalang lokal untuk lebih berkembang dan memiliki jam terbang yang lebih tinggi. Setiap peserta di beri waktu selama 60 menit untuk beraski dengan kriteria penilaian pemenang terdiri dari beberapa aspek, “Peserta dinilai dari alur cerita, sulukan, bahasa dan sastra, sabet dan cepengan, iringan, dan penampilannya,” imbuhnya.

Kunarto menambahkan, wayang merupakan budaya tradisional warisan nenek moyang sehingga dan harus dilestarikan. Bahkan alur cerita dalam pewayangan diajarkan berbagai nilai luhur yang mendidik bagi manusia, “Wayang harus dilestarikan, lomba ini harus dilakukan untuk mencari bibit-bibit muda,” tambahnya.

Seorang peserta, Muhammad Fargan, 10, membawakan wayang dengan lakon wahyu cakra ningrat. Ia mengatakan jika lakon yang dimainkan berisi tentang cerita tentang wahyu keprabon atau wahyu keraton yang akan menjadikan seseorang menjadi raja. Cakraningrat sendiri terdiri dari kata Cakra, Ning dan Rat. Cakra artinya memutar, Ning artinya di, rat artinya dunia. “ Cerita ini punya pesan tersendiri yakni menjadi seorang pemimpin harus lebih arief dan bijaksana,” katanya.

Ia mengaku senang bisa menyalurkan kemampuannya didepan para pejabat SKPD yang turut hadir menyaksikan lomba tersebut. “ senang sekali bisa ditonton banyak orang,” tambahnya. (den/fth)