Akan Dijemput Paksa Kejari, Markesi Kabur

234
Siti Nurmarkesi (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Siti Nurmarkesi (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Rencana Kejari Kendal menjemput paksa terpidana kasus korupsi dana bantuan sosial (Bansos) tahun 2010, Siti Nurmarkesi gagal dilakukan. Diduga rencana yang telah dipersiapkan secara matang oleh Kejari Kendal itu telah bocor. Alhasil, mantan Bupati Kendal tersebut berhasil kabur.

Jawa Pos Radar Semarang yang ikut dalam upaya penangkapan bersama rombongan Kejari Kendal, Senin (10/8) sempat, menyambangi rumah Markesi yang terletak di Dukuh Peturen, Desa Pagersari No 92, Patean, Kendal, terpaksa harus gigit jari, karena Markesi tidak ada di rumah. Rumah warna kuning gading tampak sepi. Petugas hanya mendapati seorang pria. ”Katanya nggak ada di rumah, orangnya pergi,” kata salah satu petugas Kejari Kendal.

Tak ingin buronannya kabur, petugas bergegas melakukan penangkapan di rumah Markesi yang terletak di daerah Manyaran. Di rumah megah itu, Markesi juga tidak ada di tempat, yang diduga telah melarikan diri begitu mendengar petugas kejari akan melakukan penangkapan.

”Diduga upaya penangkapan ini sudah bocor, sehingga terpidana belum bisa ditangkap,” ujar Kajari Kendal, Yeni Andriyani.

Menurut informasi yang dihimpun, Markesi merupakan salah satu dari empat terpidana kasus korupsi dana bansos senilai Rp 1,3 miliar tahun 2010. Sebelumnya, pihak Kejari Kendal sudah menangkap Ahmad Rikza, Abdurrohman, dan Siti Romlah, yang telah menjalani hukuman sejak tahun lalu.

”Sebelumnya memang tidak ditahan, karena belum ada perintah dari Pengadilan Tinggi (PT) Jateng. Setelah instruksi keluar, kami pun langsung melakukan penangkapan. Sayang usaha tersebut gagal,” ucapnya kesal.

Pihaknya menegaskan akan terus melakukan pencarian terhadap mantan Bupati Kendal Siti Nurmarkesi, hingga terpidana korupsi tersebut bisa menjalani hukuman secara semestinya seperti terpidana lainnya. ”Kami akan terus melakukan pengejaran hingga terpidana bisa ditangkap dan menjalani hukuman,” tegasnya.

Yeni menjelaskan, sebelumnya Pengadilan Tipikor Semarang telah memvonis Markesi hukuman penjara selama 3 tahun. Dia dijerat pasal ‎3 jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 Ayat 1 (1) KUHP sebagai dakwaan subsider. Dalam vonis tersebut, Markesi harus mengembalikan seluruh barang bukti dan kerugian negara berikut denda sebesar Rp 100 juta. Di tingkat banding di PT Jateng, majelis hakim menguatkan putusan Pengadilan Tipikor tersebut. (den/aro/ce1)