KENDAL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal terus melakukan berbagai upaya penanggulangan kekurangan air bersih akibat kemarau panjang. Salah satunya dengan memberikan pasokan air menggunakan mobil tangki. Dalam sepekan terakhir, BPBD sudah mengirim 24 tangki air berkapasitas 5.000 liter kepada 24 desa yang mengalami kekeringan. Dalam sehari, minimal empat tangki mobil dikirim ke sejumlah desa didaerah rawan kekeringan.

“Kami mengirim empat yakni di Ngampel, Gemuh, Patean dan Cepiring. Upaya ini akan terus kami lakukan untuk membantu warga selama musim kemarau yang kami perkirakan sampai Oktober menatang,” kata Kepala BPBD Paul R Simamora, kemarin.

Ia menambahkan, air yang dikirimnya berasal dari PDAM Tirto Panguripan. Meski begitu gratis, melainkan harus membelinya dari PDAM. Harga satu truk tangki air Rp 275 ribu. “Itupun hanya bisa kami ambil sekira dari pukul 12:00-13:00 WIB dan pukul 21:00-00.00 WIB, sebab alasannya jika pada jam sibuk maka (pagi dan sore) maka pelanggan PDAM akan mati airnya,” imbuhnya.

Sebenarnya, BPBD mengharapka CSR dari PDAM untuk membantu warga yang mengalami kekurangan air bersih. Tapi, hingga sampai saat ini dari PDAM belum juga memberikan bantuan air bersih. “Sebab kasian warga, mereka kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sementara, anggaran dari BPBD sendiri juga terbatas,” tambahnya.

Penduduk Kendal yang terancam kekurangan air bersih ada sebanayk 20.222 jiwa. Rinciannya, Kecamatan Ringinarum ada tujuh desa mengalami kekeringan dengan jumlah penduduk sebanyak 6.150 jiwa. Kecamatan Patean (tiga desa) dengan jumalh penduduk 2.894 jiwa, Kecamatan Pegandon (satu desa) 1.483 jiwa penduduk. Selain itu, Kecamatan Cepiring (dua desa) 7.000 jiwa dan Kecamatan Ngampel (satu desa) 2695 jiwa.

“Banyak desa yang terkena dampak dari kemarau tahun ini. Mereka tersebar di 15 desa di lima kecamatan. Selain itu, ada sekitar 338 hekter sawah di sembilan kelurahan Kecamatan Kendal kekeringan dan petaninya terancam akan gagal panen,” tambahnya.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Kendal, Slamet menambahkan pihaknya telah melakukan droping air di secara bergantian. “Droping air kami lakukan sesuai dengan permintaan. Meski demikian harus bergantian karena air selalu keterbatasan tenaga dan armada,” katanya.

Meski banyak permintaan droping air, namun pihaknya tidak melayani seluruhnya. Yakni pihaknya memerlukan laporan yang akurat terhadap jumlah warga dan daerah yang benar-benar kesulitan air. “Kami akan untuk mendahulukan yang butuh air disertai data yang jelas,” tandasnya. (bud/fth)