Temukan 5.000 Kilogram Permata Celering

225
MENARIK: Inilah batu permata celering yang ditemukan di Desa Celering, Kecamatan Keling, Jepara, oleh Bagong belum lama ini. (ABDUL ROCHIM/RADAR KUDUS)
MENARIK: Inilah batu permata celering yang ditemukan di Desa Celering, Kecamatan Keling, Jepara, oleh Bagong belum lama ini. (ABDUL ROCHIM/RADAR KUDUS)

JEPARA – Sebanyak lima ton batuan permata celering ditemukan di kawasan Pegunungan Muria belum lama ini. Penemuan tersebut dilakukan Joko Pramono alias Bagong, 27, warga Tahunan.

Bagong menamakan batu penemuannya itu, sebagai permata celering. Itu dikarenakan, batuan berbobot 5.000 kilogram itu di Desa Celering, Kecamatan Keling, yang masih di kawasan Pegunungan Muria.

Permata celering itu digunakan sebagai bahan pembuatan batu akik perhiasan. ”Penemuan ini sudah kami lakukan sebelum bulan puasa. Saya dengan tim sebanyak lima orang memang berniat mencari batu akik. Dan teryata Jepara memang memilikinya,” ujar Bagong kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin ketika dijumpai di rumahnya yang banyak dikunjungi masyarakat sekitar.

Sakralnya bahan akik itu, karena ditemukan pada Jumat Wage. Meski demikian, dia menolak batu akik panca warna itu mengandung daya magis. ”Batu akik yang kami jual ini untuk tujuan perhiasan, bukan mistis,” terangnya.

Di rumahnya, hanya disimpan bongkahan bermacam batuan akik yang ia sebut sebagai permata celering tersebut. Jumlahnya kurang dari satu setengah ton. Selebihnya, batu temuannya itu masih disimpan di salah satu lokasi di Desa Celering Pegunungan Muria.

Selain menemukan batu akik permata celering, sebelumnya Bagong juga pernah menemukan beberapa jenis batuan mulia di Jepara. Dia sengaja menggali potensi batuan di Kota Ukir ini. Di antaranya, batu akik gunung gedek, moto buto, lapis panca warna, kristal, giok, dan lainnya.

Penamaan batuan akik itu memang terdengar ganjil sekaligus unik. ”Dinamakan gunung gedek karena batu tersebut ditemukan di gunung gedek masih di Pegunungan Muria. Sedangkan moto buto, karena daerah tersebut terkesan jarang dijamah manusia,” jelasnya.

Sejak dia menemukan sendiri batu akik, tingkat produksi akik di rumahnya semakin banyak. Banyak warga yang datang memesan. Bagong pun mendapatkan predikat baru, yakni Bagong Akik.

Bagong mulanya seorang perajin ukir yang merantau ke Sulawesi. Saat booming akik, suku pedalaman di Sulawesi sudah kerap berburu batu akik dari dalam tanah. Ia banyak belajar bagaimana menggali batuan mulia hingga menjadikannya menjadi akik.

Dari pengalaman itu, dia kemudian banting setir, dari tukang ukir menjadi tukang pembuat akik. Sebelum jadi perajin ukir, sejak kecil ia memang sudah suka akik pengaruh dari kakek. ”Omzet saya, sebulan rata-rata bisa mencapai Rp 5 juta dari jualan batu akik ini,” katanya. (him/lil/jpnn/fth)