Tak Puas Produk Pasar, Bikin Baju Sendiri

498

MANFAATKAN WEEKEND : Dita menjaga keharmonisan keluarga dengan berwisata bersama suami, Pulung Nurtantio Andono dan ketiga anaknya Tarra Arnisa Nurmadina, Trada Arrizky Nurmecca dan Tamma Arkara Nurmecca. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANFAATKAN WEEKEND : Dita menjaga keharmonisan keluarga dengan berwisata bersama suami, Pulung Nurtantio Andono dan ketiga anaknya Tarra Arnisa Nurmadina, Trada Arrizky Nurmecca dan Tamma Arkara Nurmecca. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ketidakpuasan terhadap produk-produk busana muslim yang beredar di pasaran, menjadikan pemilik nama lengkap Lakshiputri Arindita memasuki gerbang bisnis. Seperti apa?

WANITA yang akrab disapa Dita ini, merasa belum menemukan busana yang menurutnya dia banget. Mulai dari warna, model, serta bahan. Kalaupun ada, tidak bisa perfect seperti yang dia inginkan. Model oke, tapi warnanya kurang cocok. Atau warna cocok, model sudah masuk, tapi bahannya yang tidak sesuai keinginan.

Demi memenuhi idealismenya, Dita mencoba peruntungan membuat desain dengan bahan yang pastinya berbeda dari produk lain. Selain untuk dikonsumsi sendiri, Dita iseng-iseng memajangnya di online shop. “Ternyata tanggapannya luar biasa. Saya sendiri malah jadi kerepotan memenuhi kuota permintaan pembeli,” kata Dita.

Dia memutuskan menggandeng kakak iparnya untuk membuka bisnis busana muslim ready to wear. Kata Dita, kakak iparnya itu juga tidak terlalu puas dengan produk yang sudah ada. Terutama soal bahannya.

“Katanya nggak bisa sembarangan pakai busana. Kulitnya memang sangat sensititf. Jadi kalau kainnya terlalu kasar, pasti dia jadi gatal-gatal. Kecocokan itulah yang membuat kami langsung bisa satu suara memasuki bisnis ini,” ucapnya.

Dengan modal yang terbilang minim -hanya Rp 4 juta atau patungan Rp 2 jutaan- 2011 lalu resmi membuka butik dengan label Sarrmanraa. Dita menuturkan, kata itu diambil dari bahasa Arab yang artinya keindahan bagi yang melihat. Awalnya, bisnis ini hanya dijalankan via online. Tapi lantaran banyak konsumen yang ingin memilih-milih langsung, Sarrmanraa membuka toko di ibu kota Jakarta.

Dita bercerita, kerjasama dengan kakak iparnya ini terbilang duet maut. Sang kakak yang doyan belanja kain di pasar tradisional, bisa memilih bahan busana yang oke punya. Dengan kualitas bagus, harganya bisa ditekan karena memang jago tawar-menawar. Sementara Dita sendiri, sibuk mencari inspirasi. Kain dari kakak iparnya itu mau diolah menjadi busana seperti apa.

Kesukaannya terhadap fashion tidak membuat Dita terlalu pusing. Hanya dengan mencari referensi dan menggabungkannya dengan imajinasi, selembar pakaian muslim bisa dia ciptakan. Tidak hanya untuk kalangan muda, dari anak-anak hingga dewasa, bisa dilayaninya.

“Desainnya otodidak saja. Kalau menjahitnya tetap ke tukang jahit agar hasilnya benar-benar prima. Soal inspirasi, bisa datang dari mana saja, kok. Mungkin memang dasarnya suka fashion, jadi sudah merasa sehati dan gampang cari referensi,” ungkap Dita.

Meski sekarang sudah lancar, layaknya perjalanan bisnis yang lain, Sarrmanraa juga mengalami jatuh bangun. Bisa jadi, hal itu memang hukum wajib untuk mengantarkannya menjadi sebuah bisnis yang diaggap sukses. Jatuh yang paling terasa, menurut Dita, terjadi pada 2013 silam. Butik yang terbilang sudah bisa mencukupi kebutuhan dua bersaudara ini terpaksa harus mati suri selama satu tahun.

Kevakuman itu bukan lantaran kecerobohan dalam mengelola manajemen. Atau kekilafan maintenance customer. Dita mengaku, Sarrmanraa terpaksa istirahat selama setahun penuh karena tidak ada yang mengurusi.

“Kebetulan saya dan kakak ipar hamil. Saya hamil anak ketiga, sementara dia hamil anak kedua. Daripada anaknya nggak keurus, mending meninggalkan bisnis sementara,” papar Dita.

Sebenarnya, lanjutnya, Sarrmanraa yang sudah mempunyai lima karyawan dan bisa terus jalan tanpa kedua pentolan itu. Hanya saja, sang perajin merasa tidak ada tantangan. Dia hanya menjahit model yang sama selama berbulan-bulan. Tidak ada inovasi baru yang lahir.

“Penjahitnya curhat sama saya, kalau tidak lagi ada tantangan. Saya sendiri sudah konsen sama kehamilan dan sedang nggak mood desain model baru. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama, Sarrmanraa diistirahatkan sementara,” ucap Dita.

Setelah keduanya membesarkan anak dan bisa ditinggal berbisnis lagi, Sarrmanraa dibuka kembali. Yang menarik, meski sudah absen setahun, masih banyak konsumn yang setia menunggu. Begitu dibuka, para pelanggan setia itu langsung menyerbu Sarrmanraa seolah ingin menghabiskan budget belanja busana selama setahun.

Mungkin, karena produk Sarrmanraa terbilang nyaris sempurna. Aneka busana muslim yang dibanderol dari Rp 10 ribu-Rp 1 jutaan ini memang menyimpan kualitas yang mungkin setara dengan brand ternama yang harganya selangit. Nyaman dipakai, tidak panas, dan yang pasti, desainnya tergolong trendy.

“Kami juga punya koleksi busana khusus untuk umroh dan haji. Ide itu lahir karena kebanyakan baju untuk ke Makkah, bahannya panas. Memang untuk menyerap keringat dan menangkal debu. Tapi kalau dikenakan dalam waktu yang cukup lama, rasanya kurang betah. Hal itu sangat kami rasakan,” ungkap Dita yang hampir saban tahun berangkat umrah bareng keluarga.

Selama berbisnis, Dita memantau, pasar baju muslimnya cukup bagus di Semarang. Hal itu terlihat dari pesanan via online. Karena itu, Maret 2015 kemarin, Dita memutuskan untuk membuka Butik Sarrmanraa di Semarang. Benar saja, begitu resmi dibuka, pesanan online langsung menyusut. Para konsumen yang berdomisili di Semarang memilih datang langsung ke butik untuk memenuhi hasrat belanja baju baru.

Dita sengaja memberikan pelayanan beda di butik Semarang. Di sini, ditawarkan jasa bagi konsumen. Yaitu mengganti ukuran baju. Ya, Dita melihat, tidak sedikit orang yang tidak jadi beli baju lantaran tidak sesuai dengan ukuran. Maklum, busana muslim memang harus fleksibel untuk menutup aurat.

“Memang sudah ada ukuran S, M, L, hingga XL. Tapi agaknya beberapa konsumen masih merasa kurang klop dengan ukuran tersebut. Demi memprioritaskan pelayanan, akhirnya kami buka jasa ini. Bahkan, para pelanggan sekarang sudah mulai pesan via telepon. Hanya menyebutkan model dan tipenya, sekaligus keterangan ukurannya. Kalau sudah jadi, diambil di butik,” tuturnya.

Kini, Dita mengaku, online shop sudah jarang tersentuh lagi. Waktu untuk meng-update produk sudah cukup tersita lantaran mengurus baju-baju kustom. Untung saja, penjahit asal Jakarta yang sudah join sejak awal, mau diajak hijrah ke Semarang. “Karena sudah cocok, jadi bisa dikerjakan lebih cepat daripada harus mendidik pengrajin baru lagi,” pungkasnya. (ajie.mahendra/ida.nl)

Silakan beri komentar.