Suka Pria Normal, Berani Servis Ekstra

8380

MESKI kaum gay masih banyak yang menutup diri demi menjaga privasi dan imej, namun di kota-kota besar seperti Jogjakarta, Jakarta, dan Bali sudah blak-blakan dalam menjalin hubungan. Lain halnya dengan Kota Semarang yang masih terselubung. Mereka biasa kumpul di kafe, club malam, salon, dan tempat-tempat lain yang dirasa nyaman untuk saling sharing. Aktivitasnya tidak jauh beda dari komunitas-komunitas lain.

“Soalnya belum berani blak-blakan di tempat umum. Kalau yang benar-benar ingin menjaga privasi, biasanya ngumpul di tempat tertutup. Bisa dibayangkan, apa yang dilakukan perkumpulan yang semuanya bisa saling suka,” ungkap salah satu gay yang enggan disebutkan identitasnya.

Karena masing-masing punya rutinitas, lanjutnya, porsi sosial dan keluarga masih menjadi bagian terpenting. Alasan itulah yang membuat para homo masih bergerilya atau bertindak dengan hati-hati agar tetap dihargai di kalangan umum. Ya, dia mengaku, orang Semarang masih menganggap sebelah mata orang yang memiliki orientasi seksual berbeda ini.

“Padahal, kalau sudah benar-benar cinta, pasti royal. Dia akan berani berkorban agar bisa terus bersama. Tidak jarang, hampir semua harta dibagi kepada pacarnya agar tidak menyeleweng,” ucapnya.

Kelainan ini, bukan semata bawaan dari lahir. Zaman sekarang, banyak pria yang mulai melenceng karena lingkungan pergaulan. Narasumber ini menceritakan, kebanyakan gay sebenarnya justru suka dengan lelaki normal. Dari kacamatanya, laki-laki tersebut tampak lebih macho. Kalau sudah ada kesempatan untuk PDKT, gay ini mulai melancarkan aksi-aksi iming-imingnya. Terutama soal uang.

“Lama-kelamaan diajak tidur. Nah, bagian ini yang membuat pria normal bisa terjerumus menjadi homo. Pasalnya, hubungan ranjang sesama pria bisa dibilang full service. Kalau sama wanita, paling hanya pemanasan, tempur, orgasme, setelah itu selesai. Tapi kalau gay, pasti ada servis ekstranya. Ada penjajakan dulu. Pelan-pelan penetrasinya. Pokoknya seninya lebih romantis,” paparnya.

Pria yang sudah punya anak-istri ini melanjutkan, memang merasa tersiksa jika belum terbuka. Apalagi dengan keluarga. Dia juga punya banyak teman gay yang sudah berkeluarga mengaku, ada semacam gejolak. Memang, mereka sayang dengan istrinya. Melakukan hubungan seksual layaknya orang normal. Tapi memang lebih puas dengan sesama jenis.

“Banyak yang masih ngumpet-ngumpet sama istrinya, kalau punya kelainan selera seksual. Tapi lama-kelamaan pasti akan diketahui istrinya. So far, tidak ada masalah, kok,” tegasnya.

Mengenai rumah tangga sesama pria, di Semarang sudah cukup banyak. Mereka rela tidak mempunyai keturunan asal bisa mengikat janji sehidup semati dengan pasangan prianya. “Tapi bagi saya, itu keputusan yang kurang bijaksana,” pungkasnya.

Sementara itu, gay lain yang juga enggan disebutkan namanya menambahkan, kehidupan homo begitu dramatis yang mungkin setiap kisah gay bisa dijadikan novel romansa best seller. Rata-rata jalinan percintaan mereka begitu nyentrik. Apalagi dalam mencari pasangan.

“Di Semarang memang masih banyak yang tertutup. Meski sudah tahu jika orang tersebut adalah gay, tapi belum tentu langsung ngaku kalau memang belum benar-benar kenal. Komunitasnya memang banyak. Tapi masih sendiri-sendiri. Seperti geng-gengan. Jadi kalau sudah masuk di satu komunitas, belum tentu diterima di komunitas lain meski sama-sama homo,” katanya.

Karena itu, tidak jarang gay asal Semarang yang betah. Mereka yang ingin open, memilih hijrah ke kota-kota besar yang lebih ramah dengan para homo. Seperti Jogjakarta, Jakarta, dan Bali. “Kalau di komunitas saya sendiri, sebenarnya cukup kompak. Bahkan sangat memperhatikan kesehatan. Setiap bulan selalu ada ceck-up agar tidak terkena virus,” akunya.

Dia mengakui, kebanyakan pria memutuskan untuk menyukai sesama jenis karena pergaulan. Sering kumpul dengan gay bisa mengubah orientasi seksualnya mengikuti teman-temannya.

“Tapi ada juga yang karena alasan ekonomi. Mereka rela menjual diri untuk menemani pria di kamar. Harganya relatif. Kalau di Semarang, antara Rp 500 ribu-Rp 1 juta. Yang lebih mahal ada, tapi tergantung orangnya. Ya seperti pekerja seks komersial (PSK) kalau tawar-menawarnya cocok, ya lanjut ke hotel atau kos-kosan,” tutupnya. (amh/ida)