MAIN BOLA : Keringnya embung yang ada di Desa Triharjo Kecamatan Gemuh disulap warga menjadi lapangan bola ketika sore hari. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAIN BOLA : Keringnya embung yang ada di Desa Triharjo Kecamatan Gemuh disulap warga menjadi lapangan bola ketika sore hari. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Musim kemarau yang panjang ternyata tidak selamanya memberikan musibah, seperti yang terjadi di Desa Triharjo Kecamatan Gemuh, Kendal. Keringnya embung di desa tersebut seakan membawa berkah bagi anak-anak dan pemuda sekitar. Pasalnya embung dengan dalam 15 meter tersebut disulap menjadi lapangan sepak bola.

Kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Kendal, membuat hampir semua cadangan air habis sehingga mengganggu aktivitas petani. Embung yang terdapat di Desa Triharjo Kecamatan Gemuh pun tak luput dari panjangnya musim kemarau. Namun embung sedalam 15 meter dengan luas sekitar 2.000 meter itu akhirnya disulap menjadi lapangan sepak bola oleh masyarakat sekitar.

Sekitar pukul 16.00 petang, anak-anak dan pemuda sekitar berkumpul di pinggiran embung yang kering dan terlihat retakan-retakan tanah. Dengan gawang seadanya, dan tanpa menggunakan alas kaki puluhan anak-anak langsung turun ke embung dan membagi sama rata jumlah pemain di setiap kelompok.

Keceriaan mereka pun muncul ketika bisa bermain sepak bola dengan menggunakan bola sepak berbahan kulit. Tak tampak kekhawatiran anak-anak ini tersandung dan jatuh ataupun mengalami lecet karena retaknya tanah yang membuat permukaan tidak rata.

Seperti yang dirasakan oleh Pandu, 12, kelas 6 SD ini, ia antusias untuk memanfaatkan embung yang kering sebagai wahana tempat bermain bola. Ia mengaku hampir setiap musim kemarau tiba yang membuat embung kering, ia bersama teman sebayanya menggunakan embung untuk bermain bola. “Disini hampir tidak ada lapangan bola, kalau di jalan main bola takut ada kendaraan lewat. Kalau main di kampung bisa kena kaca,” katanya.

Kelebihan lain bermain di embung, lanjut Pandu adalah bola sepak yang ditendang keras tidak akan hilang karena kedalaman embung yang mencapai 15 meter. “Kalau disini, bolanya tidak akan kena kaca, hilang ataupun nyangkut di rumah warga. Karena tinggi tanggul embung yang mencapai 15 meter,” tuturnya polos.

Sama halnya dengan Akbar, 8, yang telihat senang bisa bermain bola di embung yang mengering. Dia mengaku tidak takut terjatuh ataupun lecet ketika bermain bola di embung. “Pernah jatuh dan lecet. Tapi sekarang ngga takut jatuh, kalau nangis malah nanti diejek oleh teman lainnya,” tambahnya. (den/ric)