ENGGAN MELAUT : Para nelayan di TPI Bandengan, Kendal menyandarkan perahunya lantaran hasil tangkapan ikan yang minim. (BUDI SETYAWAN/Jawa Pos RADAR SEMARANG)
ENGGAN MELAUT : Para nelayan di TPI Bandengan, Kendal menyandarkan perahunya lantaran hasil tangkapan ikan yang minim. (BUDI SETYAWAN/Jawa Pos RADAR SEMARANG)

KENDAL – Para nelayan di Kendal mulai enggan melaut. Hal itu lantaran hasil tangakapan ikan dinilai tidak lagi menjanjikan. Padahal Kendal yang terletak di wilayah pantai utara Jawa (pantura) memiliki laut mencapai sekitar 941,28 km2 dan panjang pantai 41 km.

Semestinya, dengan potensi tersebut pekerjaan nelayan bisa diunggulkan. Bahkan tercatat, di Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) hasil tangkapan ikan laut mencapai 995,2 ton pada 2011 dari jumlah perahu atau kapal penangkap ikan sebanyak 1.430 unit.

“Menjadi nelayan sekarang bukan lagi pekerjaan menjanjikan. Karena para nelayan lebih sering merugi karena antara biaya sewa perahu dan kapal lebih lebih mahal ketimbang hasil ikan yang ditangkap,” kata Wakil Ketua Kelompok Nelayan Rukun Jaya Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kamis (6/8).

Menurutnya, dulu dari 13 ribu warga di Gempolsewu berprofesi sebagai nelayan ada sebanyak 10.400 jiwa atau 80 persen bekerja sebagai nelayan. Tapi sekarang ini sudah beralih menjadi buruh serabutan dan bekerja di pabrik atau bercocok tanam sebagai petani.

“Sekarang kalau dihitung-hitung nelayan di Rowosari ini cuma tinggal 25 persen atau 3.250 orang. Masyarakat ada yang berdagang, tukang batu, dan buruh. Ya, karena pendapatan dari melaut sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan,” lanjutnya.

Kebutuhan untuk melaut semakin naik seiring kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan harga ikan tangkapan tidak bisa dipastikan naik turunnya. Sehingga nelayan banyak yang menjual tangkapannya kepada tengkulak dengan sistem ijon. “Menjual kepada tengkulak di tengah laut. Nelayan enggan menjual ke TPI,” tambahnya.

Dijelaskannya, jika rata-rata nelayan melaut dengan kapal kecil, setiap operasi membutuhkan biaya sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. “Apalagi kalau cuaca buruk dan gelombang tinggi. Mereka memilih menganggur, memperbaiki kapal atau jaring tangkap ikan,” jelasnya.

Agus Supriyono, 35, seorang nelayan di Bandengan Kecamatan Kendal juga mengaku saat ini kondisi nelayan sedang mengalami musim paceklik. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung dua bulan ke depan.

“Mestinya pemerintah punya solusi. Setidaknya ada perhatian khusus kepada nelayan dengan memberikan wadah hasil tangkapan. Sehingga harga jual ikan bisa stabil. “Kalau tidak, banyak nelayan yang pindah profesi, padahal laut Kendal merupakan penghasil ikan yang cukup banyak di Jateng ini,” tandasnya. (bud/ric)