ANTUSIAS: Pasangan Sigit Ibnugroho dan Agus Sutyoso (Sibagus) saat halalbihalal dengan warga Mugassari RT 10 RW 3, Semarang Selatan, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Pasangan Sigit Ibnugroho dan Agus Sutyoso (Sibagus) saat halalbihalal dengan warga Mugassari RT 10 RW 3, Semarang Selatan, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Pasangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota Semarang yang berlatar belakang pengusaha dan birokrat, Sigit Ibnugroho-Agus Sutyoso (Sibagus) semakin mengintensifkan turun ke masyarakat secara langsung untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan warga Kota Semarang. Dengan terjun langsung ke acara-acara warga membuat pasangan ini semakin banyak mendapatkan masukan untuk merancang berbagai macam program. Dari kumpul sekaligus ngobrol langsung itu, pasangan Sibagus yang mengusung logo tokoh superhero Superman ini bisa mendengarkan banyak permasalahan dan keinginan warga.

Alasan itulah yang membuat pasangan Sibagus getol menghadiri kegiatan yang diadakan warga. Salah satunya seperti yang dilakukan di RT 10 RW 3 Kelurahan Mugassari, Semarang Selatan, Rabu (5/8) malam. Dalam acara halalbihalal yang digelar di balai kampung itu, muncul banyak keluhan warga, terutama mengenai birokrasi kepengurusan surat-surat penting.

”Sejak acara jalan sehat di KPU Minggu kemarin, kami mulai masuk dan berbaur ke tengah-tengah masyarakat, meski tanpa undangan resmi. Alhamdulillah, mereka sudah familier dengan kami, sehingga lebih terbuka. Malah curhat uneg-uneg tentang problem-problem yang mereka hadapi, terutama yang menyangkut ke pemerintahan. Kalau di Mugassari ini, banyak yang mengeluhkan mengenai birokrasi. Mereka merasa, kepengurusan surat-surat sangat berbelit, termasuk dalam pengurusan KTP,” papar Sigit kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pelayanan publik ini, kata Sigit, merupakan masalah klasik yang memang sudah saatnya disudahi. Jika dipercaya masyarakat untuk menjadi pemimpin Kota Semarang, pasangan Sibagus ini akan merombak sistem untuk memudahkan segala kepengurusan.

Merancang SOP (standar operasional prosedur) yang jelas agar mengurus segala sesuatu bisa satu pintu. Dengan begitu, warga tidak perlu bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain. Selain merepotkan, juga butuh waktu seharian sehingga kadang harus libur kerja.

”Kalau bisa cepat, mengapa harus bertele-tele. Selama ini kalau bisa cepat, biasanya ada unsur pungutan liar (pungli). Jadi, harus bayar lebih agar surat bisa jadi lebih cepat. Pungli secara tidak langsung ini memang menyusahkan. Tapi praktiknya masih saja dilakukan,” tegasnya.

Selain mendengarkan suara warga secara langsung, turun ke pusat keramaian warga ini juga menyimpan misi untuk memopulerkan pasangan Sibagus yang notabene memang tidak sefamilier calon wali kota lain.

”Kami jadi lebih optimistis mampu bersaing di pilwalkot. Banyak yang menganggap, kami merupakan pilihan alternatif dan mampu memberi warna baru untuk Kota Semarang. Insya Allah,” ucap Sigit.

Calon Wakil Wali Kota Agus Sutyoso menambahkan, untuk mendongkrak popularitas ini, pasangan Sibagus tidak melulu runtang-runtung jalan bareng. Sesekali Sigit dan Agus berpencar untuk menghadiri acara berlainan tempat. Dengan begitu, sosialisasi bisa lebih efektif.

”Dalam beberapa hal, kami memecah. Mengadiri acara yang berbeda dalam satu waktu. Tapi kalau kebetulan sama-sama tidak ada jadwal, ya bareng-bareng. Cara ini akan lebih efektif mengenalkan nama Sibagus,” ungkap Agus.

Ketua RT 3 RW 10 Mugassari, Sugeng Riyadi, menjelaskan, kehadiran pasangan Sibagus dalam acara halalbihalal ini bisa jadi angin segar bagi warga. ”Saya pribadi suka dengan tagline ’Sithik Omonge, Akeh Kerjone’. Itu anak muda banget, yang memang sedang semangat-semangatnya bekerja. Apalagi Pak Sigit yang berlatar belakang pengusaha berjanji tidak mencari balen uang yang telah dialokasikan untuk kampanye,” ucapnya.

Sugeng menambahkan, dia sempat melemparkan uneg-uneg mengenai sebutan ’Semarang Setara’. Menurutnya, Semarang tidak perlu disetarakan, apalagi dengan 35 kabupaten/kota di Jateng. Semarang harus lebih moncer karena menyandang predikat Ibu Kota Provinsi. ”Semoga calon wali kota baru ini bisa membuat nuansa Semarang menjadi kota yang baru,” harapnya. (amh/aro/ce1)