Komisi D Sidak Jembatan Kalibeluk, Hasilnya Kecewa

557
PASANG TIANG PANCANG : Dari 20 titik tiang pancang Jembatan Kalibeluk, baru 15 tiang pancang yang dikerjakan, itupun terpasang dalam kondisi miring. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PASANG TIANG PANCANG : Dari 20 titik tiang pancang Jembatan Kalibeluk, baru 15 tiang pancang yang dikerjakan, itupun terpasang dalam kondisi miring. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG–Pembangunan Jembatan Kalibeluk di Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang diduga tidak sesuai spek dan pelaksanaannya juga mundur dari yang dijadwalkan semula. Hal tersebut terungkap saat dilakukan inspeksi mendadak (sidak) oleh anggota Komisi D Bidang Pembangunan DPRD Kabupaten Batang, Rabu (5/8) kemarin.

Bahkan yang membuat anggota dewan kecewa adalam dari 20 tiang pancang yang dipasang, masih ada 5 tiang pancang yang belum dipasang. Selain itu, kalaupun dipasang, sebagian besar kondisinya miring dan tidak sesuai spek. Bahkan dari total pembangunan, baru 40 persen pekerjaan yang diselesaikan. Padahal batas akhir penyelesaian proyek hanya sampai Oktober mendatang.

Ketua Komisi D, DPRD Kabupaten Batang, Ahmad Su’udi, mengaku kecewa dengan pelaksanaan pembangunan Jembatan Kalibeluk. Karena pengerjaannya banyak mengalami keterlambatan serta beberapa tiang pancang pondasi miring. Jika tiang pancang tetap dibiarkan miring, kalau proses pembangunannya dipaksakan untuk dilanjutkan, hasilnya tidak sempurna dan membahayakan.

”Pemancangan tiang pondasi pada jembatan tidak sesuai standar, ada beberapa tiang yang miring. Padahal tiang itu berfungsi sebagai pondasi jembatan. Kami berharap, pemborong melaksanakan pembangunan jembatan sesuai standar,” harap Ahmad Su’udi.

Hal senada dikatakan oleh anggota Komisi D, Edrus. Menurutnya, proyek senilai Rp 2,1 miliar tersebut, dalam pemasangan tiang pancang pondasi menggunakan mesin khusus pemancangan tiang, bukan dengan manual tenaga manusia.

”Seharusnya proyek senilai Rp 2 miliar itu, dikerjakan secara profesinal dengan alat-alat modern. Masak penancapan tiang pancang menggunakan alat manual, hasilnya sangat jelek dan berbahaya jika dilanjutkan,” kata Edrus.

Pelaksana Proyek, Bambang Hadi, menandaskan bahwa terkait penggunaan alat manual untuk penancapan tiang pancang, beralasan karena luas keseluruhan tiang pancang hanya bervolume 360 meter persegi. Penggunaan alat digital untuk pemancangan paku bumi atau tiang pancang jika luasan volumenya lebih 1000 meter persegi. ”Pada proyek Jembatan Kalibeluk ini, luas pemancangan tiang kurang dari 1000 meter. Sehingga pengerjaannya bisa dilakukan secara manual,” elak Bambang Hadi.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) proyek Jembatan Kalibeluk, Totok Subiyanto, menegaskan bahwa pihaknya sudah dua kali memberikan teguran, namun tidak direspon. Jika pekerjaannya tidak standar dan masih mengulangi keterlambatan, pihaknya akan memberikan surat teguran yang ketiga. Selanjutnya apabila tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan progres, akan dihentikan paksa.

“Pemborong sudah kami peringatkan. Karena berdasarkan penilaian kami, pembangunan Jembatan Kalibeluk ini mengalami keterlambatan 14 hari dari progres. Kami setiap hari akan selalu memantau sampai sejauh mana progresnya,” tegas Totok yang juga Sekretaris Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Kabupaten Batang. (thd/ida)