SEMARANG – Banyaknya warga Suriname yang merupakan keturunan imigran dari Jawa membuka peluang tersendiri. Jateng siap menawarkan paket khusus wisata bagi warga Suriname yang kangen dengan tanah Jawa dan ingin menelusuri silsilah leluhurnya. Tak hanya itu, pemprov juga akan membuka hubungan dagang di bidang pertambangan dan elektronik.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan pihaknya siap menawarkan paket khusus wisata kepada warga Suriname untuk datang ke provinsi ini. ”Paketnya bisa semacam wisata golek balung kanggo ngumpulke balung pisah,” ujar Ganjar saat dihubungi semalam.

Pemprov Jateng sendiri akan menjadi tamu kehormatan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriname pada acara Indo Fair 2015 di Suriname, September nanti. Acara tersebut merupakan ajang promosi perdagangan yang menampilkan produk-produk Indonesia.

Ganjar sendiri menyatakan akan hadir dalam acara tersebut. ”Kita memang sudah menjadwalkan kunjungan kesana. Perwakilan kedutaan dan tokoh sudah hadir kesini, jadi persiapannya memang sudah matang,” imbuhnya.

Dia menambahkan Suriname juga menjajaki dibukanya hubungan dagang dengan Jateng. Hal tersebut dibuktikan dengan diundangnya investor asal Jateng ke Suriname. ”Yang sedang dijajaki hubungan dagang di bidang pertambangan dan elektronik,” katanya.

Sebelumnya Wakil Ketua Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie (Persatuan Peringatan Imigrasi orang-orang Jawa di Suriname), Marciano R Dasai mengatakan pihaknya dan pemprov akan menggelar tur sejarah keluarga di mana satu sama lain dapat menelusuri jejak leluhur dan turunannya.

”Niat itu sudah kami miliki sejak lama. Kami orang Jawa di Suriname berharap suatu saat dapat melihat leluhur kami di sini (Jawa),” ungkap Marciano saat bertemu Gubernur Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu.

Marciano mengakui, perbedaan bahasa dan jarak yang sangat jauh menjadi kendala untuk merealisasikan niat tersebut. Beruntung Gubernur Jateng memberikan lampu hijau sehingga nantinya warga keturunan Jawa di Suriname dapat mengunjungi Jawa untuk mencari asal-usul nenek moyang mereka. ”Sebenarnya kita bisa bahasa Jawa tapi bahasa Jawa Ngoko. Bahasa yang kami gunakan sehari-hari adalah bahasa Belanda,” terang pria yang telah menamatkan kuliah strata 2 Teknik Arsitektur UGM Jogjakarta itu. (ric/ce1)