BERSEJARAH: Replika tandu peninggalan Jenderal Sudirman menjadi perhatian pengunjung pameran. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSEJARAH: Replika tandu peninggalan Jenderal Sudirman menjadi perhatian pengunjung pameran. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sejumlah artefak serta benda-benda terkait sejarah Indonesia dipamerkan di atrium sebuah mal di Jalan Pemuda, Semarang selama 5 hari. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

TIGA pelajar Sekolah Dasar (SD) tampak antusias mengamati sejumlah senjata yang digunakan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang serta Palagan Ambarawa pada masa perang kemerdekaan. Ada yang sekadar mengamati, ada yang ’usil’ mengutak-atik, ada juga yang semangat menanyakan detail senjata tersebut kepada petugas yang berjaga.

Ya, koleksi dari Museum Perjuangan Mandala Bhakti tersebut merupakan beberapa dari benda-benda bersejarah yang dipajang dalam Pameran Kesejarahan dan Kepurbakalaan 2015. Setidaknya ada 24 museum yang turut ambil bagian dalam pameran yang berlangsung mulai 5-9 Agustus ini.

Masih seputar perjuangan, di pameran yang digelar dalam rangka Pekan Budaya Nasional ini juga dihadirkan beberapa benda peninggalan Jenderal Sudirman dari Museum Sudirman, Magelang. Di antaranya replika tandu, tongkat serta beberapa papan berisi amanat beliau.

”Selain benda-benda peninggalan beliau, di museum kami banyak papan-papan berisi amanat dari beliau. Amanat-amanat tersebut yang mampu membakar semangat para prajurit serta mereka yang membacanya,” ujar Kasi Sejarah Purbakala Disporabudpar, Sugeng Priyadi.

Usai berkeliling di beberapa stan Museum Jawa Tengah, pengunjung bisa bergeser ke Daerah Istimewa Jogjakarta yang diwakili oleh Museum Sejarah Purbakala Pleret. Sejumlah educator yang hadir di pameran tampil memikat pengunjung dengan seragam khas abdi dalem.

Anak-anak pun kian antusias menyimak penjelasan dari para educator yang disisipi dengan canda. Cara penyampaian seputar sejarah yang cukup menarik.

”Museum kami terkait situs dan seputar keraton, karena itu kami tampil dengan gaya abdi dalem keraton. Pun dengan penyampaiannya sebisa mungkin tidak kaku. Sehingga pengunjung tidak bosan,” kata salah seorang educator, Deny Setya.

Usai berkeliling di Jawa, pengunjung bisa menikmati beberapa koleksi Topeng dari Museum Bali, dan beberapa koleksi dari Museum Banten. Selain itu, ada juga fosil Gading Gajah dan beberapa replika fosil lainnya yang dibawa oleh Museum Sangiran.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, Prasetyo Aribowo, mengatakan, pameran diikuti 24 peserta, terdiri atas enam provinsi anggota Mitra Utama, empat Balai UPT Kemendikbud RI, dan 13 museum kesejarahan. Provinsi yang menampilkan koleksinya, yakni Jateng, DIJ, Jatim, Jabar, Banten dan Bali.

Sedangkan Balai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang ikut adalah Balai Pelestarian Manusia Purba Sangiran, Balai Nilai Budaya Jogjakarta, Balai Arkeologi Jogjakarta dan Balai Konservasi Borobudur.

Museum dari berbagai daerah di Indonesia tak lupa ambil bagian dalam memamerkan koleksinya. Di antaranya, Museum Sumpah Pemuda Jakarta, Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta, Museum Benteng Veendenburg Jogjakarta, Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, Museum Ranggawarsita, Museum Kartini Jepara dan Rembang, Museum Glagah Wangi Demak, Museum Jenderal Sudirman, Museum Mandala Bhakti Semarang, Museum Susilo Sudarman Cilacap dan Museum Bumi Putera Magelang.

”Kekayaan koleksi museum yang dipamerkan dalam satu lokasi ini dikemas sedemikian rupa, sehingga menjadi wisata edukatif yang menarik,” ujarnya. (*/aro/ce1)