TETAP BERLATIH: Tiga pemain muda PSIS. Dari kiri ke kanan: Dani Raharjanto, Ahmad Agung, dan M. Tegar Pribadi. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP BERLATIH: Tiga pemain muda PSIS. Dari kiri ke kanan: Dani Raharjanto, Ahmad Agung, dan M. Tegar Pribadi. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pada 2015 ini bisa jadi menjadi tahun paling buruk dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Hingga bulan ketujuh saat ini, kompetisi di segala elemen baik profesional maupun amatir terhenti total lantaran terjadi konflik antara PSSI dan Kemenpora yang berujung pada pembekuan federasi sepak bola tertinggi di Indonesia itu. Lalu bagaimana nasib para pemainnya?

BASKORO SEPTIADI

BAGI sebagian pemain yang telah ’punya nama,’ kondisi ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Sebab, mereka masih cukup laris manis diundang di berbagai turnamen atau sepak bola tarkam alias antarkampung. Alhasil, pemasukan pundi-pundi keuangan pun masih tetap terjaga, sekalipun tak sebesar saat bergabung di liga profesional.

Sebaliknya, bagi para pemain muda yang baru mengawali karir di sepak bola profesional, kondisi ini cukup menyulitkan. Karena praktis karir mereka terhambat. Ini juga dialami para pemain asal Semarang yang bergabung di PSIS Semarang. Ada tiga nama pemain muda yang seharusnya mulai menjalani debut karir sepak bola profesionalnya bersama tim berjuluk Mahesa Jenar ini.

Ketiganya, Ahmad Agung Setiabudi, M. Tegar Pribadi dan Dani Raharjanto. Mereka harus menunda debutnya bersama PSIS musim ini, dan harus sekuat tenaga mempertahankan performa agar masih bisa bersaing memperebutkan tempat di tim, jika nanti kompetisi kembali digulirkan.

”Tentunya cukup prihatin dengan kondisi sepak bola seperti ini. Dan cukup kecewa juga, karena berlaga di tim profesional tentu menjadi keinginan setiap pemain muda. Tapi kami harus dihadapkan pada situasi ketidakjelasan kompetisi,” kata Ahmad Agung kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut pemain kelahiran 9 Maret 1996 ini, kondisi tersebut juga sangat menyulitkan pemain-pemain muda seumurannya, mengingat di usianya, pemain seharusnya sudah berkarir di tim yang tampil di kompetisi amatir maupun profesional.

”Mau ikut turnamen kelompok umur jelas tidak mungkin, karena usia kita sudah lewat. Ya, mau tidak mau kita fokus di kuliah saja dulu sambil menjaga kondisi tentunya,” ujar mahasiswa semester 3 jurusan Akuntansi di salah satu universitas swasta di Kota Semarang ini.
Senada dengan Agung, M. Tegar Pribadi juga mengungkapkan kegelisahannya mengenai kondisi yang menerpa sepak bola Indonesia saat ini. Pihaknya pun berharap kompetisi bisa segera bergulir, sehingga secara otomatis akan menyelamatkan nasib karir para pemain muda seperti dirinya.

”Di musim kompetisi kali pertama ini sebenarnya kami sedang semangat-semangatnya berkarir di sepak bola. Kami sempat down melihat kondisi sepak bola Tanah Air. Namun sebisa mungkin kami tetap berusaha untuk menjaga semangat, karena saya sendiri sudah cukup mantap berkarir di sepak bola,” beber Tegar.

Pelatih PSIS, Eko Riyadi, mengatakan, kondisi bekunya kompetisi sepak bola Indonesia pada tahun ini memang cukup mengkhawatirkan dari segala aspek, terutama dari aspek pembinaan pemain muda.

Pihaknya menyebut, Ahmad Agung, M. Tegar Pribadi, dan Dani Raharjanto menjadi contoh pemain muda yang ’sedikit beruntung’ lantaran masih memiliki semangat untuk terus memperjuangkan karir sepak bola profesional mereka.

”Nah bagaimana dengan pemain muda berbakat yang down dengan situasi ini? Tentu hal itu akan menghambat proses regenerasi. Makanya kami sebagai pelatih berharap kompetisi bisa segera bergulir karena kemampuan serta mental pemain-pemain muda hanya bisa terasah melalui kompetisi,” beber Eko. (*/aro/ce1)