Jumlah Tenaga Terampil Minim

174
TERAMPIL : Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Dikti Hermawan Kresno Dipojoni saat meletakkan batu pertama pembangunan gedung AKN, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERAMPIL : Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Dikti Hermawan Kresno Dipojoni saat meletakkan batu pertama pembangunan gedung AKN, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Seiring dengan peningkatan iptek, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang terampil, kompeten, dan profesional sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dunia kerja dan dunia industri terus meningkat.

Menurut praktisi pendidikan yang juga penggagas berdirinya Akademi Komunitas Negeri (AKN) Demak, Prof dr AG Soemantri, ketersediaan SDM terampil kini masih kurang atau kurang relevan. “Sehingga sekolah yang hanya ditempuh selama 2 tahun ataupun satu tahun ini dapat menyiapkan tenaga terampil yang dibutuhkan di dunia kerja. Apapun yang diinginkan oleh masyarakat dan pasar akan disediakan,” ujarnya, Selasa (28/7).

Terkait dengan maraknya sekolah-sekolah tinggi yang kini banyak tutup karena sepinya peminat, Prof Mantri menegaskan, hal tersebut dikarenakan kurangnya kerjasama dalam sebuah institusi itu.

“Kurang kompak, kurang bekerjasama, dan kurang menomorsatukan kualitas. Jika kualitas sudah berbicara, maka hal itu tidak akan terjadi. Selain itu juga harus memperhatikan kemauan pasar tenaga kerja. Melalui akademi komunitas ini, mahasiswa akan diajar menjadi manusia yang terampil,” lanjutnya.

AKN merupakan perguruan tinggi vokasi yang didirikan pada 2014. Dijelaskan Soemantri, AKN dilatarbelakangi adanya keinginan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat di Kabupaten Demak khususnya untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.

“Hal ini diwujudkan dengan pemberian beasiswa kepada mahasiswa berprestasi pada tahun lalu sebanyak 50 mahasiswa melalui seleksi oleh Tim Akademi Komunitas Negeri Demak, dengan alokasi 30 untuk mahasiswa Utusan Desa dan 20 untuk mahasiswa Umum,” katanya.

Sementara itu, Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Hermawan Kresno Dipojoni mengatakan pendirian akademi komunitas dimaksudkan untuk menampung anak-anak yang tidak ingin sekolah lagi, tetapi memiliki nilai jual.

“Karena ia akan tercatat sebagai alumni perguruan tinggi. AKN merupakan perguruan tinggi. Dia punya nilai tambah. Daripada hanya lulusan SMA. Dengan menjadi lulusan perguruan tinggi maka ia akan menerima penghasilan yang besar pula,” katanya.

AKN sendiri memiliki jurusan yang setara dengan D1 dan D2. Dikatakan Hermawan, keberadaan AKN di Indonesia hingga kini sudah ada 82 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Swasta sekarang banyak yang memohon izin untuk mendirikan akademi komunitas serupa. AKN ini merupakan program negara. Karena kita ingin menambah jenis perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya. (ewb/ric)