Genjot Budidaya Tanaman Produktif dan Diversifikasi Usaha

594
PRODUKSI KARET : Sejumlah karyawan perusahaan karet di Kebun Krumput Banyumas, sedang melakukan sortir karet dan menimbangnya untuk diekspor ke luar negeri. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PRODUKSI KARET : Sejumlah karyawan perusahaan karet di Kebun Krumput Banyumas, sedang melakukan sortir karet dan menimbangnya untuk diekspor ke luar negeri. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Selain destinasi wisata, andalan produksi PTPN IX adalah karet dan kopi. Ketiganya terus digenjot, sambil melakukan diversifikasi usaha yang lebih produktif lainnya. Seperti apa?

KEBUN kopi juga membentang di lahan perkebunan PTPN IX di Bawen dan Ambarawa Kabupaten Semarang. Dilengkapi pula pabrik pengolah kopi bubuk untuk kebutuhan ekspor maupun dalam negeri. Sekaligus disediakan Restaurant atau Coffee Shop, Kampoeng Kopi Banaran yang menyediakan beragam variasi minum kopi.

Kali ini, kunjungan awak media adalah ke pabrik pengolah kopi bubuk di Kampoeng Kopi Banaran Ambarawa. Ada puluhan ton kopi yang masih utuh dan disimpan di suhu ruang tertentu, untuk mendapatkan cita rasa kopi asli Indonesia. Di antaranya, kopi yang dipanen pada tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014. Butiran kopi tersebut sengaja disisakan untuk disimpan. “Lebih lama butiran kopi disimpan, hasilnya lebih bagus. Namun penyimpannya tidak boleh sembarangan, agar kopi tidak rusak,” kata Asisten Pembantu Sinder di Kampoeng Kopi Banaran Ambarawa, Bastoni yang didampingi Kepala Humas PTPN IX, Susilo Wardani, dalam kunjungan bersama media beberapa waktu lalu.

Meski begitu, setiap panen pabrik selalu mengolah kopi bubuk untuk memenuhi kebutuhan ekspor maupun pasar domestik. Dari segi rasa, ada kopi dengan rasa original, klasik, dan premium. “Jenis kopi yang diproduksi adalah kopi Robusta dan Arabika,” tuturnya.

Dari pabrik kopi bubuk, PTPN IX juga menunjukkan perkebunan karet dan pabrik karet di Kebun Krumput Banyumas. Perkebunan karet seluas 2025 hektare ini menghasilkan karet dengan kualitas terbaik. Kebun yang dilengkapi dengan pabrik pengolah karet yang didirikan sejak tahun 1968 ini ditargetkan menghasilkan 1.703 ton karet dan memberikan kontribusi 8 persen pada PTPN IX. Kendati karet Indonesia ini terbilang nomor 3, setelah Thailand dan Malaysia.

“Selain menanam karet, di Kebun Kerumput juga dibudidayakan tanaman serai yang menghasilkan minyak asiri, budidaya jamur kuping, jati kebon, jahe dan mengembangkan Banaran Café Coffee & Tea juga,” kata Sinder Kepala Kebun Krumput, Maulana Ibrahim Fajri yang didampingi Susilo Wardani.

Pihaknya tidak hanya berkutat pada tanaman karet, namun berusaha melakukan budidaya tanaman lain atau diversifikasi tanaman produktif. Saat ini, dari tanaman serai, bisa menghasilkan 1 ton daun serai setiap dua hari, yang kemudian diolah menjadi minyak asiri antara 7-8 kg. “Untuk minyak asiri dari daun serai belum diekspor, masih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tuturnya.

Tidak hanya diversifikasi tanaman, kata Fajri, tapi juga diversifikasi usaha di tingkat hilir. Yakni membuka agrowisata Waduk Kubang Kangkung, Kawunganten, Cilacap dengan kedalaman 12 metr di area 2 hektare. Lokasinya cukup strategis hanya 28 km dari Kota Cilacap, dekat dengan Pangandaran Jawa Barat, Water Park Ajibarang Banyumas dan lokasi wisata Teluk Penyu. Sangat mudah dikunjungi, karena berada di pinggir jalan strategis. Dilengkapi pula berbagai fasilitas yang meliputi wahana perahu, sepeda air, terapi ikan, mini moto dan juga dilengkapi kafe dengan aneka menu makanan khas Banyumas seperti es kelapa muda, mendoan, dan tahu berontak.

“Keistimewaan Waduk Koebangkangkoeng adalah kesejukan dan kesegaran udaranya, karena dikelilingi kebun karet yang lebat. Kami akan mengembangkan destinasi agrowisata ini, lebih bagus lagi agar menjadi ikon wisata favorit di daerah Banyumas,” harapnya. (ida/habis)