LARIS MANIS: Aneka kerajinan Semarangan termasuk Batik Semarang, sangat diminati pemudik saat libur lebaran lalu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
LARIS MANIS: Aneka kerajinan Semarangan termasuk Batik Semarang, sangat diminati pemudik saat libur lebaran lalu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Permintaan produk-produk kerajinan tangan khas Semarang naik hingga sekitar 30 persen selama mudik lebaran lalu. Sebagian pemudik menjadikan kerajinan khas sebagai buah tangan untuk dibagikan saat kembali ke kota tujuan.

Salah satu yang kebanjiran order adalah perajin Batik Semarangan. Kekhasan motif yang ditawarkan menjadi daya tarik bagi para pemudik. “Permintaan naik hingga sekitar 35 persen dibanding hari biasa,” ujar perajin batik Semarangan Iin Windi Indah Cahyani, kemarin.

Selain itu, batik dianggap lebih tahan lama dan cukup nyeni. Baik untuk dikenakan sendiri maupun untuk buah tangan. Produk kain batik tulis, baju serta dress banyak diburu. Motif dan model yang beragam memberi lebih banyak pilihan. “Selain makanan, batik memang banyak diburu para pemudik,” kata salah satu perajin di Kampung Batik Bubakan ini.

Namun begitu, ucap Windi, stok kain batik yang kami miliki tidak terlalu banyak. Perajin batik di workshopnya sudah kewalahan melayani permintaan sebelum Hari Raya tiba. Produk kain batik tulis hingga baju jadi sudah ramai diburu untuk dijadikan parsel.

Selain batik, tas handmade asli Semarang juga ramai diburu pemudik. Selain mengusung konsep simpel, tas berlabel d’cLa yang banyak dicari pemudik dari Jakarta dan Bandung ini memiliki ciri khas perpaduan kain-kain tradisional di tiap produk yang dikeluarkan. “Tahun ini kenaikan mencapai 30 persen tidak seramai tahun lalu yang mencapai 50 persen,” kata pemilik, Claudyna Chlastriningrum. (dna/smu)