MUNCULKAN NAMA BARU: Tujuh saksi dihadirkan dalam perkara dugaan korupsi program SPA 2007 dengan terdakwa Harini Krisniati di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)
MUNCULKAN NAMA BARU: Tujuh saksi dihadirkan dalam perkara dugaan korupsi program SPA 2007 dengan terdakwa Harini Krisniati di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/Jawa Pos Radar Semarang)

MANYARAN – Tujuh saksi dihadirkan dalam sidang dugaan korupsi program Semarang Pesona Asia (SPA) 2007 dengan tersangka Harini Krisniati, di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (27/7) kemarin. Dalam sidang tersebut, 2 nama baru dari pengawai pemkot pada Dinas BKPM-PB Kota Semarang (saat itu) diduga mengetahui tentang kegiatan itu yakni, Sri Untari dan Sinta Dewi.

Dalam sidang tersebut saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Semarang di antaranya, Bambang Priyambodo (Budayawan Semarang), Petrus Palgunadi atau Bayu Krisna dan Amalia Tri Setyawati (Event Organizer Top In Production), Indah Nur (pemilik persewaan meja dan kursi), Anjang Setyo (Direktur CV Tunas Prima Mandiri), Antonius (Pemilik sanggar Brassari) dan Nur Hamidah (pemilik rental mobil).

Majelis hakim yang dipimpin Gatot Susanto mengatakan, sampai detik ini saksi-saksi belum mengarah ke personalnya siapa. Kita akan cari tahu, siapa yang terlibat, ini sudah mulai ada nama. ”Jaksa besok dipanggil 2 nama ini (Sri Untari dan Sinta Dewi). Untuk saksi jangan sampai memberi kuitansi kosong, kita perlu waspada nanti disalahgunakan,” kata Gatot di persidangan.

Dalam kesaksiannya, Anjang Setyo, Direktur CV Tunas Prima Mandiri mengaku perusahaannya pernah bekerja sama dengan pemkot sebagai rekanan. ”Tapi CV saya hanya dipinjam Ibu Sinta Dewi dan Sri Untari, pegawai pemkot pada Dinas BKPM-PB Kota Semarang. Perusahaan saya di bidang ATK (alat tulis kantor), barang dan jasa. Jadi dulu bendera CV saya hanya dipinjam. Katanya karena kegiatannya, sudah dilaksanakan jadi minjem benderanya saja,” kata Anjang.

Peminjaman CV tersebut, diakui Anjang, ia diiming-iming mendapat bagian 2,5 persen, namun tak kunjung ada realisasinya. Selain itu, ia juga diminta tanda tangan dan stempel kuitansi kosong oleh kedua pengawai pemkot tersebut. ”Tanda tangan dan stempelnya bener tapi waktu itu kosongan kuitansinya. Yang janjikan 2,5 persen keuntungan Ibu Sinta Dewi, karena minta tanda tangan dan stempel sambil menangis yang awalnya saya gak mau tapi nangis saya jadinya mau. Untuk 2,5 persen sampai sekarang saya gak dapat,” ungkapnya.

Saksi lain, Bambang Priyambodo menyebutkan keterkaitan dirinya dihadirkan sebagai saksi karena ada kuitansi yang menyebutkan ditandatangani dirinya ketika ia mengisi acara kesenian bagian koreografi kegiatan SPA. ”Waktu itu, Ibu Sinto (istri Sukawi) yang menghubungi saya untuk mengisi koreografi acara SPA. Baru ada rapat besar di pemkot membahas berkaitan keseniannya. Saya secara pribadi ikut mengisi koreografi di bawah manajemen Mas Didi. Saya menerima fee melalui manajemen Didi,” katanya.

Selain itu, lanjut Bambang ia ditanyakan mengenai kuitansi penyewaan sewa gedung karena pada kuitansi ditulis nama dirinya dari Sanggar Greget. Selanjutnya, saksi Petrus Palgunadi alias Bayu Krisna dalam kegiatan SPA ia mengaku diminta pimpinan EO (Event Organizer) untuk mengisi acara SPA bagian Senbis di Hotel Patrajasa.

Untuk kegiatan di lapangan, Petrus menyebutkan berhubungan langsung dengan Lilin dan Harini hingga acara Senbis selesai. ”Memang ada kuitansi yang saya terima dan sesuai dengan aslinya. Tapi 2 kuitansi bukan tanda tangan saya, biaya penyusunan materi tidak ada, fee Rp 50 juta juga gak ada. Kalau pengadaan materi 500 orang Rp 25 juta itu benar. Selain itu Rp 17 juta juga benar,” ungkapnya.

Atas keterangan para saksi, terdakwa Harini tidak berkomentar atas keterangan para saksi, ia menyatakan menerima keterangan saksi. Oleh majelis hakim kemudian sidang ditunda pada 30 Juli 2015 mendatang dengan agenda keterangan saksi. (jks/zal/ce1)