TRADISI: Sejumlah anak memperlihatkan ketupat yang berisi toge sambal kelapa dan uang kertas. Tradisi bagi ketupat isi tersebut akan terus dipertahankan, karena sebagai simbol kerukunan umat beragama. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
TRADISI: Sejumlah anak memperlihatkan ketupat yang berisi toge sambal kelapa dan uang kertas. Tradisi bagi ketupat isi tersebut akan terus dipertahankan, karena sebagai simbol kerukunan umat beragama. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

PEDURUNGAN — Ratusan warga di Kampung Jaten Cilik, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, menggelar tradisi unik ketika masih dalam suasana Lebaran. Yakni membagikan ketupat, Jumat (24/7) kemarin. Berbeda dengan ketupat pada umumnya, ketupat yang dibagikan berisi toge atau kecambah dan uang kertas.

Tradisi pembagian ketupat isi kepada warga Jaten Cilik ini sudah berlangsung sejak zaman pergerakan kemerdekaan. ”Pembagian ketupat ini sudah dilakukan sejak dulu kala, dan kami tinggal meneruskan tradisi tersebut yakni satu minggu setelah Lebaran,” ungkap tokoh masyarakat setempat, Munawir.

Munawir mengatakan, bagi-bagi kupat isi ini dipelopori oleh dua sesepuh di kampungnya bernama Haji Samin dan Salamah, ”Kedua orang tersebut kemudian mendirikan Kampung Jaten Cilik usai hijrah dari Mranggen pada 1960,” katanya.

Untuk memeriahkan peringatan Syawalan keduanya membuat ketupat berisi tauge dan sambal kelapa parut. Mereka mengiris bagian tengah ketupat lalu dibagikan kepada warga kampung. ”Waktu itu uang yang dibagikan tidak seperti saat ini,” kenangnya.

Kemudian cara unik lainnya agar warga datang ke rumahnya, Mbah Samin menyalakan petasan dan memukul-mukul wajan selepas salat Subuh. ”Dan begitu petasan-petasan itu dinyalakan warga pun berhamburan datang ke rumahnya. Mereka berebut mendapatkan kupat isi,” katanya.

Seiring perkembangan zaman, isi ketupatnya diganti dengan kubis dan sambal kelapa parut yang tengahnya diselipkan uang kertas. ”Jadi ketupat itu merupakan simbol perdamaian umat muslim. Karena bentuknya menyerupai segi empat yang merupakan simbol berjabat tangan pertanda antarumat muslim saling memaafkan,” akunya. Tradisi ini dilakukan selepas salat Subuh supaya bisa diolah kembali menjadi hidangan di makan pagi sekaligus pertanda berakhirnya ibadah puasa Syawal. (hid/zal/ce1)