DUTA DAERAH: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melepas kontingen Pramuka Jateng untuk mengikuti kegiatan Jambore Pramuka Dunia. Inzet: Faradisya Diandra Putri. (DOKUMEN)
DUTA DAERAH: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melepas kontingen Pramuka Jateng untuk mengikuti kegiatan Jambore Pramuka Dunia. Inzet: Faradisya Diandra Putri. (DOKUMEN)

Faradisya Diandra Putri adalah siswi SMP Nasima yang terpilih menjadi salah satu peserta dalam 23rd World Scout Jambore atau Jambore Pramuka Dunia ke-23 yang digelar di Kirara-hama Yamaguchi Jepang pada 28 Juli-8 Agustus 2015 mendatang. Siapa dia?

AHMAD FAISHOL

KWARTIR Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jateng baru saja melepas 13 peserta yang didelegasikan untuk mengikuti Jambore Dunia ke-23 di Kirara-hama Yamaguchi Jepang. Mereka akan bergabung dalam Pasukan Garuda Satu bersama kontingen nasional yang berjumlah total 387 peserta. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya berasal dari Kota Semarang. Mereka adalah Faradisya Diandra Putri, Nurlita Asri Andriani, dan Salsabila Tatya Rizky Aulia.

”Kami tidak tahu kenapa yang lolos semuanya perempuan. Mungkin mereka dipandang memiliki kemampuan, sehingga layak untuk didelegasikan,” ungkap Luhur Pambudi, orang tua Faradisya Diandra Putri saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (24/7)

Luhur sendiri saat dihubungi masih berada di Jakarta untuk mendampingi delegasi Jateng dalam upacara pelepasan oleh Presiden RI Joko Widodo setelah sebelumnya juga dilepas oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Pasalnya, saat ini Luhur juga menjadi salah satu Pengurus Kwarda Gerakan Pramuka Jateng periode 2013-2018. ”Sesuai rencana, mereka berangkat ke Jepang besok (hari ini) pukul 19.55,” katanya.

Luhur mengaku tidak ada persiapan khusus bagi putrinya dalam mengikuti kegiatan tersebut. Kecuali latihan rutin di sekolah dan training selama dua hari yang diselenggarkan Kwarda Jateng di Bumi Perkemahan Karanggeneng Semarang.

”Justru yang menarik adalah hari ini (kemarin) merupakan hari ulang tahun Fara (panggilan Faradisya). Sehingga menjadi kado spesial baginya untuk bisa sinau Pramuka di sana,” terangnya.

Luhur mengungkapkan, putrinya Fara menyukai Pramuka sejak kecil. Yakni, semasa menempuh pendidikan di SD Lamper Kidul 02 Sompok Semarang. Kesukaan tersebut bertambah saat melanjutkan sekolah di SMP Nasima Semarang.

”Mungkin hal ini tidak terlepas dari sosok orang tuanya yang telah merasakan manfaat dari Pramuka,” katanya sambil menambahkan ini merupakan pengalaman pertama bagi putrinya mewakili Jateng dan Indonesia di kancah internasional.

Luhur mengakui, jika putri keduanya, Meitasya Naila Putri juga ingin mengikuti jejak kakaknya. Saat ini, yang bersangkutan masih duduk di bangku kelas IV SD Lamper Kidul 02 Sompok Semarang, dan mengaku juga menyukai Pramuka.

”Rencananya ia akan mengikuti kegiatan ISC (Indonesia Scouts Challenge) yang diselenggarakan Kwarnas (Kwartir Nasional) bekerja sama dengan Jawa Pos Group,” ujar pria yang tinggal di Jalan Nangka III No 8 Lamper Kidul, Semarang ini.

Kepada Fara, Luhur berharap putrinya dapat memanfaatkan kesempatan yang dimiliki untuk belajar budaya dan adat istiadat negara lain. Selain itu, juga mengenalkan budaya Jateng yang memiliki budi pekerti yang baik, santun, sesuai dengan yang dipesankan Gubernur Ganjar Pranowo.

”Dalam kegiatan Jambore Dunia itu, anak-anak khususnya dari Jateng akan menonjolkan kesenian daerah berupa jaran kepang dan memamerkan beberapa makanan khas tradisional Jateng. Semoga semua berjalan lancar dan selalu dikenang dunia,” pungkas Luhur seraya meminta maaf tidak dapat memberi kesempatan kepada koran ini untuk berkomunikasi langsung dengan Fara dikarenakan yang bersangkutan sedang mengikuti karantina.

Sebelumnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melepas kontingen Jateng berpesan agar para peserta yang telah dibekali kecakapan dan pengetahuan lainnya di kwartir masing-masing dapat mengenalkan beragam kekayaan Indonesia. Antara lain, keberadaan Candi Borobudur, juga Candi Hindu tertua di kawasan Dieng, batik, serta keramahan warga Indonesia.

”Harus banyak komunikasi dengan peserta lain. Banyak hal tentang Indonesia khususnya Jateng yang bisa diceritakan kepada peserta lain dari berbagai negara. Termasuk, mengenai bangunan-bangunan peninggalan negara penjajah Indonesia yang hingga kini masih berdiri di berbagai daerah. Jangan segan bertukar gagasan dan berkompetisi dengan generasi muda Jepang di bidang Iptek. Terus semangat menjalin persahabatan antar sesama dan antarnegara,” pintanya sembari meminta tidak lupa membawa suvenir khas Jateng seperti batik atau kerajinan tangan lain untuk dibagikan kepada para peserta dari negara-negara lain sebagai tanda persahabatan dan kenangan-kenangan. (*/aro/ce1)