MASIH SEPI: Larangan mengurus paspor lewat calo terpasang di pintu masuk Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASIH SEPI: Larangan mengurus paspor lewat calo terpasang di pintu masuk Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KRAPYAK – Biro jasa atau calo pengurusan paspor masih marak di Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. Rabu (22/7) kemarin, sejumlah calo berkedok biro jasa ini sudah tampak berkeliaran mencari mangsa. Rata-rata mereka mangkal di seputar Musala Nurul Hakim kompleks Kantor Imigrasi Semarang.

Meski di pintu masuk Kantor Imigrasi di kawasan Krapyak ini sudah terang-terangan dipasang peringatan untuk menghindari para calo, sekaligus dipasang pengumuman besar-besar tata cara pengurusan paspor secara resmi, namun para calo tersebut tak ada ketakutan sedikit pun dalam menjalankan aksinya. Mereka menawarkan jasanya secara terang-terangan kepada pemohon paspor yang datang.

Penelusuran Jawa Pos Radar Semarang di lapangan sebelum Idul Fitri lalu, para biro ini kebanyakan berseliweran di luar ruang loket hingga seputar musala di kantor Imigrasi tersebut. Para biro ini kebanyakan mencari para pencari paspor yang kelihatan kebingungan. Para biro ini terlihat akrab dengan beberapa petugas Kantor Imigrasi, terlihat beberapa di antaranya saling bertegur sapa.

Para calo tidak mengenakan tanda pengenal (ID card) seperti yang disebutkan Kasi Komunikasi dan Informasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Semarang, Muhammad Asrofah, sebelumnya. Saat hari pertama masuk kerja pasca Lebaran kemarin, jumlah calo yang dilegalkan oleh Kantor Imigrasi ini memang terlihat lebih sedikit. Rupanya banyak yang masih mudik di kampung halaman.

Satpam Kantor Imigrasi Kelas I Semarang, Djarwo, mengatakan, para calo tersebut memang belum kelihatan semua seperti hari biasanya. Informasi yang diterimanya, kemarin para biro jasa tersebut hendak menggelar rapat. ”Masih hari pertama kerja usai Lebaran, jadi masih sepi, Mas. Tapi para biro jasa itu katanya mau rapat. Nggak tahu apa yang mau dibahas. Biro-biro itu tadi juga sudah banyak kumpul, mungkin lagi pada keluar. Saya kurang paham juga,” kata Djarwo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (22/7).

Seorang calo yang akrab dipanggil Jabrik mengatakan, rekan-rekanya masih pada mudik, jadi yang datang sedikit. ”Mungkin masih pada mudik Mas, saya gak begitu paham,” ujarnya.

Jabrik mengatakan, pengurusan paspor melalui dirinya cukup membawa KTP atau kartu mahasiswa, kartu keluarga (KK), serta akta kelahiran atau ijazah. ”Ngurus sendiri biayanya Rp 360 ribu lamanya 1 minggu lebih, Mas. Kalau lewat biro Rp 800 ribu, sekarang foto, besok sudah jadi. Bayarnya nanti di Bank BNI, kalau gak buru-buru bagusnya ngurus sendiri. Kalau buru-buru lewat biro aja, Mas,” tawarnya.

Hal senada diungkapkan Dedi, biro jasa paspor lainnya. Untuk mengurus paspor melalui dirinya juga cukup melampirkan syarat KTP, KK dan akta kelahiran atau ijazah. ”Biaya mengurus sendiri Rp 360 ribuan, jadi sekitar satu minggu. Lewat biro Rp 800 ribu, paling lama 2 hari sudah jadi. Masa aktif paspor sama, 5 tahun,” kata Dedi.

Calo yang akrab disapa Tri Paspor juga mengatakan serupa. Pengurusan paspor melalui dirinya cukup membawa KTP atau kartu mahasiswa, KK, akta lahir atau ijazah. ”Biro umrah juga sering menguruskan ke saya. Kalau lewat biro bisa lebih cepat,” promosinya.

Pria yang mengaku sudah 7 tahun menjadi biro jasa tersebut mengatakan, di hari biasa pembuatan paspor dibatasi hanya 200 pemohon. Dia bisa mendapat belasan pemohon. Bahkan saat jelang Lebaran lalu, ia mengaku bisa mendapat 50-an pemohon, karena banyak yang ingin bepergian ke luar negeri. ”Kalau lewat biro memang sedikit mahal, Rp 800 ribu, tapi lebih cepat. Sekarang foto, besok udah jadi,” kata Tri.

Salah seorang pemohon paspor baru, Yusuf Hidayat, mengaku, memilih mengurus paspor sendiri tanpa perantara calo. Ia menyebutkan, dalam pengurusan paspor hanya memakan waktu standar lima hari sudah selesai. ”Yang penting syaratnya komplet, lamanya juga cuma lima harian Mas. Biayanya Rp 360 ribu, dibayar di Bank BNI,” ujarnya.

Kasi Komunikasi dan Informasi Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kelas I Semarang, Muhammad Asrofah membantah maraknya calo yang mengatasnamakan biro jasa pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. Menurutnya, biro tersebut adalah resmi, karena ada izin dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia Kantor Wilayah Jateng.

Ia juga menyebutkan, para biro tersebut selalu mengenakan kartu pengenal yang dikenakan di dada. ”Kita juga survei kantornya, lakukan survei persyaratan di lapangan dan dilakukan administasi juga. Mereka sudah legal dan resmi. Kebanyakan yang mengurus ke biro tersebut karena pemohon tidak punya waktu. Tidak ada kerja sama dengan pegawai. Bahkan kalau ada pegawai yang ketahuan ’ngobyek’ akan dikenai sanksi berat,” ungkapnya.

Asrofah menegaskan, kalau ada biro jasa yang bermasalah pihaknya memberikan sanksi pencabutan izin. Ia juga membantah akan adanya budaya bagi-bagi antara oknum petugas dengan para calo tersebut. ”Kalau sembunyi-sembunyi kita tidak tahu. Sepengetahuan kita, tidak ada bagi-bagi antara oknum pimpinan dengan biro. Kalau ada yang komplain, baru akan dicabut izin bironya,” tandasnya. (jks/aro/ce1)