SUDAH DIINGATKAN: Tulisan peringataan untuk menghindari calo dipasang besar-besar di pintu masuk Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. (Joko Susanto/Radar Semarang)
SUDAH DIINGATKAN: Tulisan peringataan untuk menghindari calo dipasang besar-besar di pintu masuk Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. (Joko Susanto/Radar Semarang)

Pihak Kantor Imigrasi sudah berupaya mempermudah birokrasi pengurusan paspor dengan berbagai cara. Namun hingga kini para calo paspor masih tetap subur di kantor-kantor Imigrasi, termasuk di Semarang. Seperti apa?

PARA calo pengurusan paspor ini masih banyak dijumpai di kantor Imigrasian Kelas I Semarang. Cukup subur, karena mereka mampu meraup keuntungan yang lumayan ketika mendapatkan order dari para calon pembuat paspor. Apalagi masyarakat masih banyak yang justru ingin ‘jalur cepat’ untuk mengurus paspor, meski harus mengeluarkan uang lebih banyak dari tarif resmi.

Padahal, pintu masuk Kantor Imigrasi Semarang di kawasan Krapyak Semarang ini sudah terang-terangan dipasang peringatan untuk menghindari para calo, sekaligus dipasang pengumuman besar-besar tata cara pengurusan paspor secara resmi.

Cara yang digunakan para calo ini adalah dengan menggunakan konsep biro jasa resmi. Bahkan Kantor Imigrasian Kelas I Semarang juga mengakui adanya biro tersebut. Dari penelusuran Jawa Pos Radar Semarang di lapangan, para biro ini kebanyakan berseliweran di luar ruang loket hingga seputar musola di kantor Keimingrasian tersebut. Para biro ini kebanyakan mencari para pencari paspor yang kelihatan kebingungan. Para biro ini terlihat akrab dengan beberapa petugas Kantor Imigrasi, terlihat beberapa di antaranya saling tegur sapa.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, dengan format pengurusan resmi tanpa melalui calo, terlihat antrean. Para pencari paspor menunggu sumber suara petugas yang menyebutkan dan mengarahkan pemegang nomor antrean yang sudah dibawa pemohon. Pelayanan petugas juga tampak sopan dan mengarahkan dengan baik. Lama antrean pemohon menunggu sekitar 20 menit setelah itu nomor berikutnya dipanggil.

Dedi, salah seorang biro jasa mengatakan, untuk mengurus paspor melalui dirinya cukup melampirkan syarat KTP, KK dan akte kelahiran atau ijazah. “Biaya mengurus sendiri Rp 360 ribuan jadi sekitar satu minggu. Lewat biro Rp 800 ribu, lamanya paling 2 hari kalau lewat biro. Masa aktif paspornya sama, 5 tahun,” kata Dedi menawarkan diri kepada Jawa Pos Semarang ketika dalam penyamaran, kemarin.
Hal yang sama diutarakan calo yang akrab disapa Tri Paspor. Ia mengatakan pengurusan paspor melalui dirinya cukup membawa KTP atau kartu mahasiswa, KK, akte lahir atau ijazah. “Biro umroh juga sering menguruskan ke saya. Kalau lewat biro bisa lebih cepat,”sebut Tri.

Pria yang mengaku sudah 7 tahun menjadi biro jasa tersebut mengatakan, di hari biasa pembuatan paspor dibatasi hanya 200 pembuat. Dia bisa mendapat belasan pemohon. Sementara untuk hari-hari jelang lebaran seperti sekarang, ia mengaku bisa mendapat 50-an pemohon karena banyak yang ingin bepergian ke luar negeri. “Kalau lewat biro memang sedikit mahal, Rp 800 ribu, tapi lebih cepat. Sekarang foto besok udah jadi. Kalau tidak buru-buru bagusnya mengurus sendiri. Kalau buru-buru lewat biro saja mas,” kata Tri mengarahkan.

Salah seorang pemohon pembuat paspor, Yusuf Hidayat mengatakan, ia datang ke kantor Keimigrasian untuk mengurus pembuatan paspor secara langsung. Ia menyebutkan dalam pengurusan paspor yang ia lakukan hanya memakan waktu standar lima hari sudah selesai. “Yang penting syaratnya komplet, lamanya juga cuma lima harian mas. Biayanya Rp 360 ribu, dibayar di Bank BNI,” katanya.

Yusuf juga sengaja membuat sendiri karena dirinya merasa mampu untuk melakukan pengurusan sendiri dari pada melalui calo (biro). “Segaja tidak lewat calo. Syaratnya juga mudah setelah pemberkasan antre interview, foto dan terpenting datangnya cepet,” ujarnya. (jks/smu)