Desak JT Kembali Dioperasikan

164
HARUS DIOPTIMALKAN : Truk menimbang muatan di Jembatan Timbang (JT) Klepu, Kabupaten Semarang. Dewan mendesak JT dibuka kembali agar jalanan tak semakin rusak. (Radar semarang files)
HARUS DIOPTIMALKAN : Truk menimbang muatan di Jembatan Timbang (JT) Klepu, Kabupaten Semarang. Dewan mendesak JT dibuka kembali agar jalanan tak semakin rusak. (Radar semarang files)

SEMARANG – DPRD Jateng mendesak agar 16 Jembatan Timbang (JT) yang ada di provinsi ini kembali diaktifkan. Sebab keberadaan JT dianggap sangat diperlukan untuk mengantisipasi kerusakan jalan di Jateng. Selama JT ditutup, kondisi jalanan semakin rusak lantaran tidak ada yang mengawasi muatan kendaraan yang melintas.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso mendesak, agar 16 JT di Jateng kembali dioperasikan. Sebab, selama ditutup, muatan kendaraan tidak terkontrol dan tidak ada pengawasan di jalan. ”Kondisi seperti ini jelas membuat jalan di Jateng semakin rusak parah. Apalagi, muatan kendaraan semua melebihi tonase,” katanya.

Hadi menambahkan, wacana pengambilalihan JT oleh pemerintah pusat juga belum terealisasi. Mestinya, JT di Jateng tetap beroperasi seperti JT di provinsi lain. Kalau alasannya karena penindakan di JT dan tidak masuk PAD, paling jumlahnya sekitar Rp 11 miliar. ”Itu tidak sebanding dengan perbaikan jalan yang rusak. Mestinya tetap dioperasikan. Toh kalau ada penindakan uang masuk PAD,” imbuhnya.

Dia mengakui, sanksi berupa tilang yang diberlakukan selama ini belum memberikan efek jera. Mestinya, sanksi harus tegas seperti menurunkan muatan atau meminta agar kendaraan yang melebihi tonase kembali. ”Tapi lagi-lagi persoalannya Jateng belum memiliki lokasi atau gudang yang besar untuk menampung muatan yang berlebih,” tambahnya.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, Muhammad Ngainirricarld beranggapan, mestinya pemprov lebih tegas memberikan sanksi bagi kendaraan melebihi tonase. Yaitu dengan menurunkan muatan berlebih, atau meminta kembali menjadi salah satu sanksi yang tegas. ”Jika hanya tilang, ya malah keenakan mereka. Karena begitu ditilang, tinggal menyodorkan surat tilang,” katanya.

Keberadaan JT di mana pun sangat dibutuhkan sebagai pengendali kendaraan yang melebihi muatan. Jika tidak ada, jelas kendaraan bakal bebas melintas dengan muatan yang melebihi batas. Dan jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, jalanan di Jateng bisa semakin rusak. ”Harus diaktifkan kembali, ini demi infrastruktur di Jateng,” tambahnya. (fth/ric/ce1)