TINGKATKAN PRESTASI: Ketua KONI Jateng Hartono bersama konsultan olahraga asal Australia Daniel Barry. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
TINGKATKAN PRESTASI: Ketua KONI Jateng Hartono bersama konsultan olahraga asal Australia Daniel Barry. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ketua Umum KONI Jateng Hartono berharap, kedatangan konsultan olahraga asal Australia Daniel Barry sebagai upaya meningkatkan performa atlet-atlet pelatda yang disiapkan ke babak Pra-PON. Kecuali itu, memberikan ruang konsultasi kepada KONI kabupaten/kota.

”Dengan ilmu yang dimiliki, Barry akan banyak memberikan masukan kepada pelatih atlet bagaimana mendesain program yang benar agar kualitasnya bisa meningkat. Kami memang berharap, setelah ada konsultan teknis ini, performa atlet kita bisa terangkat. Sehingga mereka bisa siap tempur saat Pra-PON nanti,” kata Hartono.

Barry, sarjana sport science lulusan Edith Cowan University, Perth, tersebut diterima Hartono yang kemarin didampingi Wakil Ketua Umum II KONI Sudarsono dan Kabid Binpres Taufik Hidayah.

Dalam pertemuan tersebut, selain berisi perkenalan, Hartono menjabarkan tugas-tugas Barry selama di Jateng. Menurut dia, guna meraih prestasi optimal di Pra-PON, khususnya PON XIX tahun 2016 mendatang, KONI melakukan upaya-upaya meningkatkan daya saing atlet.

Selain mendatangkan konsultan ilmu olahraga, kata dia, KONI bersama pengprov tertentu juga merekrut sejumlah pelatih asing. Pelatih mancanegara yang sudah di Jateng, diantaranya pelalih wushu sanda asal Cina Gao Dezhen dan pelatih taekwondo dari Korsel, Sim Woo Jin.”Mudah-mudahan kehadiran pelatih asing tersebut mampu memberikan motivasi berlipat bagi para atlet kita,” katanya.

Ditambahkan Sudarsono, rencananya Barry akan dikontrak selama enam bulan untuk persiapan Pra-PON. Setelah itu bakal dievaluasi lagi, apakah memungkinkan diperpanjang untuk menghadapi PON atau tidak.”Kami kontrak enam bulan dulu, dan bisa diperpanjang. Tugas Barry sementara ini adalah mendatangi cabang-cabang yang menjalani pelatda,” kata Sudarsono.

Barry sendiri mengakui, meskipun baru dua hari berada di Semarang, dirinya sudah merasa enjoy. Apalagi dia melihat, masyarakat Indonesia cukup bersahabat. ”Saya masih menunggu program, dan segera bekerja. Tak masalah harus menangani banyak cabang. It’s okay,” kata pria berusia 30 tahun yang hobi renang dan bermain musik tersebut.

Menurut dia, pada prinsipnya cabang-cabang terukur dan nonterukur yang mengandalkan gerak, kuncinya satu yaitu butuh kemampuan berlari. Jika atlet punya ketahanan dalam lari, dia memiliki stamina atau fisik yang memadai. Itu menjadi modal berlaga di arena.

Dalam berlatih, juga memperhatikan hal-hal yang memunculkan potensi cedera, misalnya cedera lengan pada pemain voli atau hamstring pada pemain bola. Maka dari itu, dibutuhkan pola latihan yang benar agar terhindar dari cedera. (bas/smu)