SEMARANG – Beberapa hari jelang lebaran, realisasi penarikan dana dari perbankan di seluruh Kantor Perwakilan Bank Indonesia se-Jawa Tengah mencapai Rp 11,1 triliun. Penarikan didominasi oleh pecahan Rp 100 ribu sebesar 52,7 persen, kemudian pecahan Rp 50 ribu sebanyak 33,8 persen, pecahan Rp 20 ribu sebanyak 4,5 persen dan pecahan Rp 10 ribu sebanyak 4,2persen.

“Jumlah penarikan tersebut mencapai 73 persen dari rencana kebutuhan sebesar Rp 15,2 triliun,” papar Direktur Eksekutif Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Iskandar Simorangkir, kemarin.

Sedangkan nominal penukaran oleh masyarakat melalui loket kantor BI se-Jawa Tengah mencapai Rp 163 miliar, dengan porsi terbesar adalah pecahan Rp 10 ribu, yaitu sebesar Rp 45,8 miliar, kemudian pecahan Rp 20 ribu sebesar Rp 41,9 miliar dan pecahan Rp 5 ribu sebesar Rp 34,9 miliar.

Selain memenuhi kebutuhan uang tunai baik dari sisi jumlah maupun pecahan, BI juga turut mengantisipasi gejolak harga di bulan Ramadan dan Idul Fitri dengan melaksanakan program dan kebijakan 4K. Yaitu ketersediaan barang dan jasa, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, serta komunikasi publik yang efektif. Langkah-langkah konkret yang dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jateng di antaranya pemantauan harga pasokan dan distribusi, serta penyelengaraan pasar murah dan operasi pasar.

“Untuk memantau ketersediaan dan keterjangkauan harga serta kelancaran distribusi, TPID Provinsi Jateng bersama SKPD terkait telah pula melaksanakan kunjungan dan inspeksi mendadak ke pasar serta gudang-gudang beras,” jelasnya. (dna/smu)