Mudik ke Lampung, Sekaligus Berburu Batu Akik

206
Gatot Susanto. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Gatot Susanto. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bagi Gatot Susanto, lebaran adalah hari spesial. Momen bagi dirinya berkumpul dengan keluarga besarnya. Tak heran, jika humas sekaligus hakim Pengadilan Negeri (PN), Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Semarang ini rela mudik ke kampung halamannya di Lampung sekalipun lewat jalur darat.

JOKO SUSANTO

LAMPUNG menjadi kota tujuan Gatot Susanto untuk merayakan Idul Fitri tahun ini. Ia sengaja memilih mudik lewat jalur darat sekalipun berisiko terjebak kemacetan parah. Baginya, macet adalah seninya mudik. Semua proses itu harus dilalui dan dinikmati demi pulang kampung.

“Mudik ke Lampung, Mas. Yang membuat kangen Lampung karena anak-anak dan cucu masih di sana (Lampung). Saya punya dua cucu,” kata hakim yang akrab disapa Gatot ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bagi hakim yang memulai karir sejak 1983 tersebut, saat merayakan Idul Fitri di Lampung, ia saling bersilaturahmi dan berjabat tangan dengan keluarga besarnya.

Tak hanya itu, aneka ragam makanan khas yang membangkitkan selera, serta berburu batu akik di pameran yang ada di Lampung, juga menjadi salah satu agenda hakim yang memulai karir di usia 32 tahun tersebut.

“Di sana (Lampung) juga ada pameran batu akik. Saya punya koleksi 30 batu, Mas. Ada batu Bacan, Pancawarna, Klawing, Fosil, Banten, batu Liontin dan batu Lampung, semua nyarinya di pameran,”katanya.

Untuk lebaran kali ini, hakim berusia 55 tahun ini menetapkan liburan selama 3 hari di kampung halamannya. “Kami ada 12 bersaudara Mas. Laki-laki ada 6, dan perempuan ada 6. Jadi kami merupakan keluarga besar di Lampung. Untuk liburan lebaran nanti cuma 3 hari sampai 19 Juli 2015 saja. Tanggal 20 Juli harus sudah di sini (Semarang) karena pas 22 Juli di pengadilan juga sudah ada halal bihalal bersama,”sebutnya.

Bagi hakim kelahiran Jogjakarta ini, perayaan Idul Fitri di tanah Lampung segaja dipilih, karena selain keluarga besarnya di Lampung, juga merupakan kota masa kecil hingga dirinya dewasa.

“Saya memang lahir di Jogja, tapi sejak usia 9 tahun hingga besar saya di Lampung. Waktu itu, karena ayah pindah tugas. Bukan hanya itu Mas, makanan khas Lampung selalu membuat kangen,”katanya.

Empek-empek dan pindang Baung, diakui Gatot, merupakan salah satu menu kuliner buruannya selama merayakan lebaran di Lampung. Baginya, Pindang Baung memiliki rasa yang khas, pedas dan nikmat.

“Di sini (Semarang) pindangnya asin. Di sana (Lampung) pindang Baungnya dimasak bening, rasanya khas pedes jadi nikmat. Di Lampung pecel lele juga enak, sambel Lampungnya buat kangen,”sebutnya.

Selain makanan khas dan kumpul keluarga besar, hakim yang biasa menyidangkan kasus korupsi tersebut juga memiliki tradisi khusus kumpul keluarga (sungkeman) di rumah kakak tertua yang dianggap keluarganya telah menggantikan posisi almarhum ayahnya.

“Acara keluarga itu wajib di lebaran pertama setelah salad ied (Idul Fitri) langsung kumpul tempat kakak tertua. Apalagi kakak tertua saya, kebetulan paling mapan, jadinya di rumah beliau. Namanya sungkeman yang muda ke yang tua. Di rumah beliau (kakak) paling nanti nyanyi-nyanyi bareng sekaligus diiringi dengan organ tunggal (keyboard) yang dimainkan oleh keluarga besar kami pastinya saling maaf memaafkan (sungkeman),”sebutnya.

Tak kalah menarik dalam setiap kali lebaran, kata dia, keluarganya juga wajib menghidangkan masakan opor ayam, bahkan ia mengaku kalau opor ayam buatan ibunya, rasanya belum ada yang bisa menandingi hingga sekarang.

“Opor ayam itu pasti ndak boleh ketinggalan di lebaran pertama, Saya juga merasa ndak ada yang seenak opor ayam masakan ibu saya. Sampai sekarang saya cari belum ketemu, bahkan adik-adik saya juga mengakui bahwa opor ayam masakan ibu masih spesial,”jelasnya.

Untuk berkas perkara yang ditanganinya, Gatot juga mengaku tidak membawanya pulang. Baginya liburan lebaran tersebut waktunya untuk keluarga. “Ndak dibawa dong, lebaran waktunya untuk keluarga. Kalau dulu iya bawa berkas, sekarang hakimnya sudah tambah jadi bisa lebih ringan,”ujarnya. (*/aro)