Lebaran di Korsel

291
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

LEBARAN kali ini bisa dibilang istimewa sekaligus menyedihkan bagi Nadia Anggrek Cahyono Putri. Pasalnya, gadis yang akrab disapa Anggrek ini harus merayakan lebaran tanpa bercengkrama dengan keluarga. Ia harus bertandang ke Korea Selatan (Korsel) untuk mengikuti program latihan taekwondo selama 40 hari sejak Senin (13/7) lalu. Kegiatan ini digelar Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jateng.

“Sedih jelas iya karena tidak bisa sungkem sama orang tua. Tapi di satu sisi, senang juga bisa plesiran di Korsel. Negara di mana banyak remaja wanita ingin ke sana,” ungkap sulung dari tiga bersaudara pasangan Harry Cahyono dan Panty Anggriani ini.

Menginjakkan kaki di Negeri Ginseng memang bukan kali pertama bagi Anggrek. Gadis kelahiran Pacitan, 10 Maret 1996 ini pernah terbang ke Korsel pada 2011 silam dengan keperluan yang sama, yakni mengasah kemampuan taekwondo di bawah pelatih berdarah Korsel.

“Program latihannya memang sangat berbeda. Yang jelas lebih keras. Meski tingkatannya sama, tapi karena di sana memang tempat kelahiran taekwondo, jadi rasanya beda. Apalagi ketika latih tanding dengan atlet sana,” tuturnya.

Pemilik postur 158 cm/51 kg ini mengaku ingin tinggal di Korsel. Selain lantaran tempatnya bersih dan penduduknya yang ramah, Korsel boleh dibilang surga bagi Anggrek. Di sana, dia bisa mendapat banyak ilmu seputar taekwondo yang bisa menjadi bekal mendapatkan medali emas di kompetisi akbar Indonesia. Bahkan dia merasa on fire ketika mengikuti latihan paling keras sekali pun. Ya, penyuka siomay ini memang menyimpan obsesi menjadi atlet internasional yang bisa mengharumkan Merah Putih.

“Cuacanya memang cocok untuk latihan. Tapi sayang, makanannya kurang enak. Beda sama cita rasa di sini. Kurang cocok sama lidah Indonesia dan harus hati-hati karena rata-rata tidak halal,” ungkap penyabet Juara 1 Korea Open 2011 ini. (amh/aro)