SIDAG VONIS : Ahmad Najib usai menjalani sidang atas perkara dugaan korupsi proyek pembangunan gedung Diklat RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDAG VONIS : Ahmad Najib usai menjalani sidang atas perkara dugaan korupsi proyek pembangunan gedung Diklat RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN–Ahmad Najib, Kepala Bagian Keuangan RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga, hanya bisa menunduk lesu. Begitu jatuhi vonis hukuman 2 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan serta membayar biaya perkara Rp 10 ribu. Vonis tersebut dibacakan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Semarang yang dipimpin Ari Widodo, di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (14/7) kemarin.

Terdakwa Ahmad Najib selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) dianggap majelis hakim bersalah. Lantaran dinilai telah bersama-sama dengan terdakwa lain melakukan tindak pidana dugaan korupsi proyek pembangunan gedung Diklat RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga. Yakni dengan Direktur CV Heksa Prima Inovasi, Sri Prayogo.

Ketika putusan hakim dibacakan, terdakwa yang mengenakan sandal dan celana kain warna hitam dan baju koko berlengan panjang serta peci hitam, terus menundukkan kepala. Bahkan, tangannya begitu lunglai ditaruh di atas pahanya.

Najib dianggap secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi yang diubah dengan UU nomor 20 tahun 2003 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Dalam pertimbanganya, majelis hakim menyebutkan hal-hal yang meringankan, terdakwa memiliki tanggungan keluarga sekaligus kepala keluarga serta bersikap sopan dalam persidangan. “Hal yang memberatkan terdakwa telah menyalahgunakan kewenangan sebagai pejabat sehingga tidak turut serta memberantas korupsi. Tidak ditemukan alasan pemaaf dalam perkara terdakwa. Dan perbuatan terdakwa merugikan keuangan negara,” kata Hakim Ari Widodo.

Atas putusan tersebut, terdakwa dan penasehat hukumnya menyatakan menerima. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Salatiga menyatakan masih pikir-pikir. “Kami minta waktu untuk pikir-pikir yang mulia,” kata JPU, Indra.

Seperti diketahui, dalam sidang terpisah, majelis hakim juga menjatuhkan hukuman empat tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan kepada Direktur CV Heksa Prima Inovasi, Sri Prayogo.

Terdakwa Sri Prayogo juga dikenakan pidana tambahan berupa kewajiban pengembalian uang kerugian (UP) Negara sebesar Rp 444,2 juta subsider hukuman penjara selama dua tahun.

Sementara itu, kasus ini bermula saat RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga hendak membangun gedung diklat dengan pagu anggaran sebesar Rp 2,4 miliar pada tahun 2012. Sedangkan terdakwa Ahmad Najib ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom). Dalam pelaksanaannya, CV Heksa Prima Inovasi milik Sri Prayogo ditunjuk sebagai pemenang lelang. Adapun nilai kontrak yang disepakati dalam proyek tersebut senilai Rp 2,1 miliar. (jks/ida)