DITIMBUN: Petugas reserse Polrestabes Semarang memusnahkan barang bukti bangkai ayam. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITIMBUN: Petugas reserse Polrestabes Semarang memusnahkan barang bukti bangkai ayam. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Jelang Lebaran, peredaran daging ayam bangkai atau ayam tiren kembali marak. Kemarin, seorang pedagang daging bernama Kusni, 50, warga Margosari Baru I RT 7 RW 7, Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Semarang diketahui menjual daging ayam tiren di Pasar Genuk Semarang. Penjualan daging bangkai tersebut dibongkar oleh aparat Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Semarang. Pelaku dinyatakan melakukan pelanggaran karena memperdagangkan barang rusak, cacat, bekas, serta tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin membenarkan kalau pihaknya menemukan peredaran ayam tiren di Pasar Genuk. ”Setelah kami telusuri, peredaran ayam tiren tersebut dilakukan oleh Ibu Kusni. Dia pedagang daging di Pasar Genuk,” kata Burhanudin kepada Jawa Pos Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Selasa (14/7).

Dijelaskan, pelaku sengaja mengedarkan ayam yang dibeli telah dalam kondisi mati atau bangkai. ”Dia mengumpulkan ayam tiren tersebut, kemudian diolah dengan cara dagingnya dipotong-potong. Setelah itu, diberi bumbu berwarna kuning dan dijual di Pasar Genuk Semarang dalam kondisi matang,” jelas Burhanudin.

Kasus tersebut terbongkar pada Senin (13/7) sekitar pukul 18.00. Aparat Polrestabes Semarang yang mendapatkan informasi penjualan ayam tiren tersebut, melakukan penelusuran di Jalan Margosari Baru I, Sawah Besar, Gayamsari. Di lokasi tersebut, terdapat sebuah rumah yang mengolah ayam tiren. ”Ayam tiren itu sudah diolah dengan bumbu warna kuning, kemudian dijual atau diedarkan di Pasar Genuk,” terangnya.

Pihaknya mengaku telah memeriksa pelaku, dan mengakuinya. Hasil penggeledahan di lokasi kejadian, petugas Polrestabes Semarang menemukan sebanyak 15 ekor ayam tiren sebagai barang bukti. ”Ayam tersebut didapatkan oleh pelaku dari para penjual ayam di Pasar Kubro Kaligawe, Semarang. Para penjual ayam tersebut menyuruh pelaku membuang ayam-ayam yang sudah mati. Namun oleh pelaku, ayam-ayam tersebut justru diolah lagi, dan diedarkan dalam keadaan matang,” jelasnya.

Burhanudin mengaku, masih melakukan penyelidikan untuk mengusut kasus tersebut. ”Kami masih mengembangkan kasus ini untuk ditelusuri dari mana ayam-ayam tersebut, dan mendalami keterangan pelaku. Untuk mengetahui penjual pertama siapa dan lain-lain,” katanya.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto, menambahkan, status yang bersangkutan masih terlapor, belum ditetapkan sebagai tersangka. ”Belum ada penahanan. Yang bersangkutan juga sedang sakit,” ujarnya.

Menurut hasil pemeriksaan sementara, Kusni mengaku telah menjalankan aksi tersebut sejak dua tahun lalu. Namun tidak setiap hari. ”Dia membeli ayam mati dari penjual seharga Rp 7.500 per ekor. Setelah dipotong-potong dan diberi bumbu, per potong dijual seharga Rp 3 ribu,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Sugiarto, ayam mati tersebut dijual oleh pedagang ayam karena biasanya ada pembeli yang mencari untuk makan ternak ikan lele. ”Jadi, penjual ayam mati tersebut bisa juga tidak tahu kalau ternyata oleh pelaku ayam mati tersebut dipotong-potong, diberi bumbu, kemudian dijual lagi dalam kondisi matang,” ujarnya.

Atas perbuatannya, pelaku terancam pasal 62 jo pasal 8 ayat (2) UU RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun, atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar. Sore kemarin, barang bukti sebanyak 15 ekor ayam tiren dimusnahkan dengan cara dibakar, kemudian ditimbun di lapangan kompleks Mapolrestabes Semarang. (amu/aro/ce1)