KALIWIRU – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jateng, Drs H Ahmadi MAg, meminta masyarakat menunggu hasil sidang isbat dalam mengakhiri Ramadan dan pelaksanaan Lebaran 2015. Sidang dilaksanakan pada 29 Ramadan 1436 H atau Kamis (16/7) setelah magrib besok di seluruh Indonesia.

”Sidang isbat pemerintah ini atas pertimbangan rukyat dan hisab yang telah dihimpun oleh pakar astronomi, pakar falak, dan lainnya yang terhimpun dalam Tim Hisab Rukyah Pusat. Selanjutnya kita menunggu kabar pelaksanaan rukyatul hilal yang dikoordinir oleh Kementerian Agama se-Indonesia termasuk Jawa Tengah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Terkait rukyatul hilal tingkat Provinsi Jateng, Kepala Bidang (Kabid) Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariat (Urais dan Binsyar) Kemenag Jateng, Drs H M Saefullah MAg menambahkan, ada delapan titik pengamatan hilal yang dikoordinatori Kemenag Jateng. Yakni, di Pantai Kartini Jepara, Pantai Alam Indah Tegal, Menara STAIN Pekalongan, Observatorium Assalam Solo, Masjid Agung Jawa Tengah, Ujungnegoro Batang, Pantai Ayah Kebumen, dan Pantai Binangun Rembang.

”Di Jateng dipusatkan di Pantai Kartini Jepara. Dengan pertimbangan posisi yang paling bagus untuk bulan Juli ini,” tandasnya.

Pelaksanaan kali ini, imbuhnya, didampingi pakar falak nasional yang meliputi KH Drs Slamet Hambali, MSI; anggota Tim Hisab Rukyat Pusat dari UIN Walisongo yang juga Tim Hisab Rukyat Pusat dan Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia, Dr H Ahmad Izzuddin MAg; dihadiri pula Bupati Jepara dan Kakanwil Kemenag Jateng, Drs H Ahmadi, MAg.

Terkait kemungkinan adanya perbedaan waktu Lebaran, Izzuddin menerangkan bahwa berdasarkan data hisab, dapat dipastikan Muhammadiyah (aliran hisab wujudul hilal) akan berhari raya Idul Fitri 1436 H pada Jumat (17/7), karena jelas ketinggian hilal sudah di atas ufuk. Begitu pula pemerintah, imbuhnya, jika konsisten dengan prinsip hisab Imkanurrukyah, mestinya tetap menunggu hasil pelaksanaan rukyatul hilal pada Kamis (16/7) sore. Jika hasilnya, ketinggian hilal menurut standar tradisi Indonesia 2 derajat, maka 1 Syawal 1436 H jatuh pada Jumat (17/7), sehingga puasa Ramadannya hanya 29 hari.

Sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) yang memakai aliran rukyah dalam satu wilayah negara (rukyah fi wilayatil hukmi), penentuannya masih menunggu hasil rukyah yang baru dilakukan Kamis (16/7) sore. Namun demikian, NU dapat mempertimbangkan hasil hisab yang menunjukkan ketinggian hilal yang ditradisikan di Indonesia bisa dilihat yakni 2 derajat yang selalu dapat dirukyah. ”NU memiliki pakar hisab yang terwadahi dalam Lajnah Falakiyyah Nahdlatul Ulama, kiranya bisa mempertimbangkan hal ini dalam mengambil keputusan walaupun cuaca medung,” harapnya.

Ditambahkan, Indonesia termasuk daerah yang sulit dilakukan rukyah, karena tropis (curah hujan termasuk tinggi). Apalagi menurut ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), ada kemungkinan sekarang mendung. Maka jika NU paten dengan hasil rukyatul hilal, jika terlihat akan ber-Idul Fitri sama, yakni Jumat (17/7). Namun jika tidak berhasil melihat, harus menyempurnakan 30 hari bulan puasa Ramadan (istikmal), yang berarti Jumat (17/7) masih tanggal 30 Ramadan. Sedangkan hari raya Idul Fitri baru akan ditetapkan pada Sabtu (18/7).

”Kami berharap tim rukyatul hilal berhasil melihat hilal, agar bisa melaksanakan Lebaran kompak pada Jumat (17/7). Kalau tidak ada tim yang berhasil melihat hilal, akan lebih bijaksana demi kemaslahatan umat, sebaiknya keputusan diserahkan kepada pemerintah cq. Menteri Agama,” tandasnya.

Jumat, 1 Syawal
Sementara itu, meski pemerintah belum secara resmi mengumumkan awal Syawal 1436 H, namun Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 17 Juli 2015. Hal itu didasarkan pada hasil hisab yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jateng H Danusiri menjelaskan, hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah Hisab Hakiki. Yakni, menghitung gerakan matahari, bulan, dan bumi secara akurat. Menurutnya, perjalanan ketiganya selalu konsisten sehingga dapat diprediksikan tidak akan meleset.

”Setelah terjadi Ijtima’ atau konjungsi dan bulan telah mengejar matahari, serta saat matahari tenggelam bulan masih ada di atas ufuk, maka sudah disebut wujudul hilal,” bebernya ditemui di Kompleks RS Roemani Semarang, Selasa (14/7).

Danusiri menambahkan, alasan kenapa Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki adalah tidak lain untuk mengantisipasi penglihatan mata yang sering keliru. Sehingga harus ada alat yang dapat mengatasi kelemahan indrawi tersebut. ”Apalagi Indonesia merupakan negara tropis dan maritim. Sehingga kondisi satu daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda,” katanya.

Atas penetapan tersebut, Danusiri mengimbau kepada seluruh warga Muhammadiyah untuk merayakan Lebaran bersama-sama. Jika diketahui masih melakukan puasa pada hari tersebut, maka hukumnya menjadi haram. ”Keputusan ini sangat mungkin berbeda dengan keputusan pemerintah. Namun jika nantinya sama, kami mengucap syukur Alhamdulillah. Yang terpenting adalah saling menghormati perbedaan. Itu yang utama,” tandasnya. (ida/fai/aro/ce1)