Rekam Pijat Telanjang, Salon Elite Diprotes

2132

SEMARANG – Seorang wanita cantik berinisial L, 25, mengaku jengkel lantaran menjadi korban pelecehan. Sebab, aktivitasnya mulai dari ganti baju, hingga aktivitas pijat kecantikan dalam kondisi telanjang direkam menggunakan kamera pengintai atau Closed Circuit Television (CCTV) di salon elite yang berlokasi di Jalan Erlangga Barat, Kota Semarang.

Selama berada di dalam ruangan privasi pijat kecantikan tersebut, L mengaku tidak mengetahui bila ruangan salon direkam. ”Saya baru mengetahui ada CCTV di ruangan tersebut setelah proses pemijatan selesai,” ujar L kepada wartawan, Minggu (12/7) kemarin.

Diceritakan dia, kejadian itu bermula pada Kamis (9/7) sore. L berangkat menuju Salon AVE di Jalan Erlangga Barat, Kota Semarang. Sebagai pelanggan salon, L memilih salon itu karena profesionalismenya.

Tak lama kemudian, ia dilayani sebagaimana layaknya pelanggan salon. Kemudian menuju ruang privasi pemijatan kecantikan. Di ruangan tersebut, L mengaku dipijat kecantikan dalam kondisi telanjang.

Begitu proses pemijatan selesai, L terenyak saat mendapati mata kamera CCTV terpasang di ruangan tersebut. ”Saya kaget, kenapa ada kamera CCTV di ruangan ini. Saya juga tidak diberitahu oleh pihak salon,” ujarnya.

Karena penasaran, L akhirnya memberanikan diri menanyakan terkait kamera CCTV yang terpasang di ruang privasi pelanggan tersebut. Benar, pihak salon mengakui bahwa ada kamera CCTV dalam kondisi aktif. ”Pihak salon menjelaskan bahwa kamera CCTV itu hanya untuk memantau, bukan merekam,” kata L menirukan penjelasan pihak salon.

Meski belum puas mendapat penjelasan itu, L kemudian pulang dengan masih diliputi tanda tanya besar. Di sepanjang perjalanan pulang, L mengaku terus kepikiran bahwa apa mungkin CCTV tersebut hanya untuk memantau tanpa merekam. ”Saya semakin khawatir,” imbuhnya.

Tentu saja ia malu karena aktivitas pijat kecantikan dalam kondisi telanjang ternyata dipantau oleh orang lain (pihak salon). Terlebih takut, jika rekaman tersebut disebarluaskan baik di jejaring sosial maupun di internet. Kekhawatiran L mendorongnya bercerita tentang masalah tersebut kepada salah satu kerabatnya.

Keesokan harinya pada Jumat (10/7), akhirnya L ditemani kerabatnya mendatangi salon tersebut. Ia bermaksud mengonfirmasi kembali apakah betul aktivitas pijat kecantikan itu tidak terekam.

Lebih lanjut, kata L, ia bertemu dengan seorang wanita berambut pendek di salon AVE. Wanita tersebut menjelaskan bahwa rekaman CCTV tidak tersimpan di hardisk, karena full. Tidak puas dengan penjelasan tersebut, L juga meminta bantuan seorang teknisi untuk membuka rekaman CCTV. Betapa kagetnya, ternyata semua aktivitas selama berada di dalam ruangan salon tersebut utuh terekam CCTV. Termasuk adegan pijat kecantikan dalam kondisi telanjang.

Tentu saja, L selaku konsumen merasa kecewa berat menjadi korban pelecehan. Ia juga khawatir kalau rekaman tersebut disebarluaskan. L yang tak mampu menahan kesal meminta kepada pihak salon agar rekaman CCTV tersebut dihapus. Namun pihak salon tidak mau memenuhinya. Kedua belah pihak sempat bersitegang.

Pihak Salon AVE meminta maaf atas penjelasan yang sebelumnya mengatakan bahwa rekaman tidak tersimpan di dalam hardisk. ”Saya minta maaf, saya menyampaikan hal itu karena menurut tim CCTV salon, rekaman CCTV tidak tersimpan ke hardisk karena hardisk-nya full,” ujar seorang wanita berambut pendek kepada pihak L di salon tersebut.

L bermaksud meminjam hardisk tersebut dengan tujuan menghapus adegan itu. Awalnya diperbolehkan bahkan telah membuat surat pernyataan, namun entah kenapa setelah sekitar satu jam, tiba-tiba pihak L dilarang membawa hardisk tersebut. Pihak salon meminta kepada L untuk menghancurkan hardisk tersebut secara bersama-sama.

”Biar sama-sama enak, pihak kami (salon) juga harus menjaga rekaman itu karena ratusan pelanggan ada di dalam rekaman, bagaimana kalau kita musnahkan bareng-bareng hardisk ini di sini,” ujar L menirukan permintaan wanita di salon tersebut.

Pihak L menolak. Saat ditanya bagaimana cara menghancurkan hardisk, pihak salon tidak bisa memberikan jawaban. Demi menjaga privasi, pihaknya tetap meminta hardisk untuk dihapus, namun tidak diperbolehkan.

Bahkan pihak salon mendatangkan pengacara yang menjadi kuasa hukumnya untuk menjelaskan hal tersebut. ”Kuasa hukumnya, mengaku bernama Aditya. Ia mengatakan bahwa aktivitas CCTV di ruangan salon itu bukan pelanggaran hukum,” ujarnya.

Pengacara tersebut malah terkesan menantang pihak L jika akan menempuh jalur hukum. Pihak L tetap bersikeras agar pihak salon menghapus rekaman. Akhirnya pihak salon mau menghapus memori hardisk CCTV dengan cara diformat. Namun demikian, L telanjur kecewa terhadap perlakuan yang tidak menghargai privasi konsumen tersebut.

Pihak salon berjanji akan melakukan evaluasi atas kejadian tersebut. Menurut L, pelanggan-pelanggan lain juga mengalami hal yang sama. Namun mereka tidak sadar saat ganti baju dan dipijat terekam CCTV. ”Siapa yang rela aktivitas pribadinya terekam dan dilihat orang lain?” ungkap L kesal.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah, Ngargono saat dimintai komentar terkait kasus CCTV di ruang privasi konsumen salon, menegaskan bahwa hal tersebut pelanggaran hukum.

”Melihat konteksnya seperti itu, sudah merupakan pelanggaran. Substansi pemasangan CCTV adalah untuk pengamanan. Tidak perlu detail, cukup di pintu masuk dan keluar sudah berfungsi untuk memantau. Apalagi sampai ke ruang terapi dan ruang ganti. Itu pelanggaran privasi konsumen,” tegas Ngargono.

Dikatakan dia, pihak salon bisa melakukan pelanggaran terkait Undang–Undang nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE (informasi transaksi elektronik). ”Bisa dilakukan proses hukum, asalkan korban mau melapor kepada pihak kepolisian, sebab itu merupakan delik aduan,” katanya.

Menurut Ngargono, meski sudah dihapus data rekaman tersebut, pihak korban berhak meminta jaminan agar data tersebut tidak bocor. ”Apabila data bocor, konsumen bisa menuntut. Ini bisa terjadi terhadap semua orang yang pernah menjadi pelanggan di salon tersebut,” imbuhnya.
Lebih lanjut, kata Ngargono, selain penyelesaian melalui jalur hukum, korban bisa menyelesaikan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang berkantor di Gedung Pandanaran lantai 4, kawasan Lawang Sewu, Tugu Muda Kota Semarang. (amu/ida/ce1)