DILAKUKAN PEMERIKSAAN: Mobil Inafis Polrestabes Semarang masuk ke Markas Satuan Brimob Polda Jateng Detasemen A Pelopor Subden 2 Jalan Kumudasmoro Gisikdrono, Semarang Barat, pada Minggu (12/7) pukul 12.20. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DILAKUKAN PEMERIKSAAN: Mobil Inafis Polrestabes Semarang masuk ke Markas Satuan Brimob Polda Jateng Detasemen A Pelopor Subden 2 Jalan Kumudasmoro Gisikdrono, Semarang Barat, pada Minggu (12/7) pukul 12.20. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG BARAT – Markas Satuan Brimob Polda Jateng Detasemen A Pelopor Subden 2 Jalan Kumudasmoro Gisikdrono, Semarang Barat, diserang aparat bersenjata laras panjang, pada Minggu (12/7) sekitar pukul 02.00 dini hari. Diduga kuat berasal dari anggota TNI Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) Semarang. Aparat dari kedua institusi keamanan negara tersebut, terlibat bentrok.

Sempat terdengar beberapa letusan tembakan ke udara. Namun sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian yang berusaha melihat insiden tersebut, diusir dan disuruh masuk ke dalam rumah masing-masing.

”Jumlahnya ratusan orang bersenjata laras panjang. Mereka datang menggunakan sejumlah mobil dan motor. Warga ketakutan,” ujar saksi mata, warga sekitar yang enggan disebutkan namanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (12/7) kemarin.

Bahkan selain membawa senjata laras panjang, lanjut saksi tersebut, beberapa orang lain membawa benda mirip pelontar mortir. ”Sejumlah warga kebingungan melihat kejadian tersebut. Sebab, pakaiannya serbahitam,” ungkap warga tersebut.

Sebelum kelompok misterius itu masuk ke dalam Markas Brimob Simongan, sudah terdengar beberapa kali tembakan ke udara. Bahkan, beberapa yang lainnya sempat menodongkan senjata laras panjang ke sejumlah warga. Sejumlah warga memang ada yang sedang nongkrong di pos kamling, serta ada yang hendak sahur. ”Ditodong senjata laras panjang, kemudian disuruh masuk ke dalam rumah,” ungkap saksi tersebut.

Dikatakan saksi, sejumlah warga sempat bertanya-tanya atas insiden menegangkan tersebut. ”Saya kira meraka sedang latihan. Tapi sepertinya ada masalah antara kedua kelompok aparat tersebut. Mereka melakukan penyerangan. Ada yang teriak-teriak maju. Suasananya menakutkan seperti perang,” katanya.

Seorang ibu, Nik, 55, pemilik warung yang tak jauh dari lokasi kejadian mengaku hanya bisa melihat dari jarak jauh karena ketakutan. ”Enggak ada yang berani keluar Mas, saya hanya mengintip dari warung. Ada geger aparat, jumlahnya ratusan,” ujarnya.

Saksi mata lain, ibu YK, 60, yang kebetulan sedang menginap di rumah menantunya di asrama kompleks Markas Brimob Simongan Semarang mengatakan, insiden bentrok tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari.

”Awalnya dari pos penjagaan Markas Brimob ada sejumlah orang dikejar-kejar oleh anggota Brimob. Saat itu, terdengar ledakan tembakan kurang lebih sebanyak empat kali,” kata YK saat ditemui wartawan di sekitar kompleks Markas Brimob Simongan, kemarin.

Menurut YK, sekelompok orang yang dikejar-kejar itu adalah anggota TNI Penerbad Semarang. Sekelompok orang tersebut kemudian lari ke sekitar masjid Attawab Brimob Simongan Yon-A Kompi 2. ”Nah, di sekitar masjid sudah ada ratusan anggota Penerbad,” bebernya.

Sejumlah anggota Penerbad kemudian mengamuk. Saat situasi menegangkan itu, di jalan depan markas, ada satu anggota Tamtama Remaja Brimob mengendarai motor hendak mencari sahur, turut menjadi korban pengeroyokan.

”Ditanyai, kamu orang Brimob ya? Kemudian dikeroyok dan dijotosi. Motor milik anggota Brimob itu dirusak,” ungkap YK, warga Condro Kusumo RT 8 RW 5 Kelurahan Gisikdrono, Semarang.

Dari dalam markas, terdengar pengumuman menggunakan speaker bahwa semua anggota Brimob tidak boleh keluar dari markas. Sementara di luar tembok markas sudah dikepung ratusan anggota dari Penerbad.

”Tak berselang lama, datang mobil dan tank (diduga Barakuda, Red), ada tulisannya Penerbad. Mobil dari Brimob Srondol juga datang. Saya bisa keluar dari asrama setelah situasi sepi sekitar pukul 03.00. Warga yang tinggal di depan sini (Condro Kusumo RT 8) tahu semua. Tapi nggak bisa berbuat apa-apa, disuruh masuk, nggak boleh keluar, warga ketakutan,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang anggota Brimob Simongan yang berjaga di depan Mako Brimob membenarkan bahwa kelompok tersebut dari TNI Penerbad. ”Kondisi Mako Brimob sedang sepi, karena banyak anggota sedang bertugas di luar kota melakukan pengamanan Lebaran. Padahal mereka (anggota Penerbad) juga sering latihan menembak di sini,” ujarnya heran.

Dalam pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi kejadian, pada Minggu (12/7) pukul 12.20, tampak mobil Inafis Polrestabes Semarang masuk ke Markas Satuan Brimob Polda Jateng Detasemen A Pelopor Subden 2 Jalan Kumudasmoro Gisikdrono, Semarang Barat.

Beberapa menit kemudian disusul mobil dinas Suzuki Grand Vitara yang diduga mobil dinas Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin. Mako Brimob tersebut dijaga ketat. Terlihat ada warga sipil yang hendak masuk di pos penjagaan, tidak diperbolehkan masuk. Begitu pun wartawan hanya bisa melakukan pantauan dari luar markas.

Sementara itu, Kasat Brimob Polda Jateng, Kombes Pol Mohammad Badrus saat berusaha dikonfirmasi wartawan melalui ponselnya, belum kunjung diangkat. SMS konfirmasi yang dikirimkan oleh wartawan juga belum dibalas. Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin saat dikonfirmasi melalui handphone-nya juga belum diangkat.

Begitu pun Komandan Detasemen Polisi Militer (Dan Denpom) IV/5 Semarang, Letkol CPM (K) Tri Wahyuningsih juga tidak mengangkat ponsel dari wartawan. Belum ada keterangan resmi dari kedua belah pihak yang berseteru tersebut. Latar belakang bentrok kedua institusi yang menaungi aparat keamanan negara juga belum diketahui. Semuanya masih silent. (amu/ida/ce1)