GANTI RUGI : Seorang warga menerima ganti rugi karena lahan miliknya dilewati pembangunan jalan tol Semarang-Solo. (DINAR SASONGKO/jawa pos radar semarang)
GANTI RUGI : Seorang warga menerima ganti rugi karena lahan miliknya dilewati pembangunan jalan tol Semarang-Solo. (DINAR SASONGKO/jawa pos radar semarang)

SALATIGA – Tujuh pemilik lahan di Kauman Kidul dan Tingkir Lor yang terkena pembangunan jalan tol Semarang – Solo seksi III Bawen – Salatiga akhirnya menerima ganti rugi yang diajukan panitia pembebasan, kemarin. Pembayaran dilakukan di pemkot dengan nilai ganti rugi total Rp 927,5 juta untuk luas lahan 2015 m2.

Pembayaran disaksikan pihak panitia jalan tol SS dan petugas dari bidang Tata Pemerintahan, bagian Hukum Setda Pemkot Salatiga. Uang ganti rugi diberikan dalam bentuk tabungan di BRI. Pemilik lahan yang menerima ganti rugi yakni Hj Jaetun, Asiana, Atmaji, Ningsih Sri, Harjito, Amir, dan Nurul Hidayah. “Total sudah 98 persen yang di bebaskan. Ini pembayaran untuk tujuh orang yakni enam pemilik lahan di Kauman Kidul dan satu orang di Tingkir Tengah,” kata PPK Jalan Tol Semarang – Solo, Heru Budi Prasetya, kepada Radar Semarang, kemarin.

Ia menambahkan, setelah semua dibebaskan kontraktor penggarap proyek saat ini telah melakukan land clearing (pembersihan lahan). Sementara, warga yang telah menerima ganti rugi diberi tenggat dua bulan untuk pengosongan lahan. Jika dari tenggat itu belum bisa pindah, maka bisa meminta kelonggaran sebatas memungkinkan.

Salah satu penerima ganti rugi, Asiana, 60, menuturkan jika dirinya terpaksa menerima uang tersebut. Awalnya ia mengaku sangat keberatan untuk pindah dan sempat bersama beberapa warga lain mengajukan gugatan ke pengadilan meski akhirnya kandas. “Ya keberatan, tanah saya dihargai Rp 340 ribu per meter, untuk beli lagi harganya Rp 425 ribu per meter. Kan malah tombok,” keluh Asiana yang mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 218 juta.

Dengan selesainya masalah lahan ini, masih tersisa satu warga dengan dua bidang tanah di Kauman Kidul dan empat warga dengan empat bidang tanah di Tingkir Tengah. Namun tim optimis permasalahan akan segera diselesaikan.

Sebelumnya Wakil Ketua Panitia Pengadaan Tanah ( P2T) Pemkot Salatiga Tri Priyo Nugroho pernah mengatakan, sesuai dengan program pemerintah, di tahun ini, untuk pembebasan tanah dan meratakan lahan jalan tol, sedangkan pembangunan fisiknya dilakukan pada tahun 2016 mendatang. “Sesuai rencana, tahun 2015 ini menyelesaikan pembebasan tanah, dan tahun berikutnya (2106) penyelesaian pembangunan fisiknya,” imbuhnya.

Diketahui, untuk wilayah Salatiga luas total tanah warga yang terkena pembangunanjalan tol, mencapai 140.980 meterpersegi (m²). Tanah tersebut milik 235 WTP ( warga terkena proyek) yang tersebar di Kecamatan Sidorejo dan Tingkir. Rinciannya, Kelurahan Kauman Kidul (Sidorejo) seluas 61.987 m², Kelurahan Bugel (Sidorejo) 28.853 m², Kelurahan Kutowinangun (Tingkir) 25.448 m² dan Kelurahan Tingkir Tengah (Tingkir) seluas 25.454 m².

Sedangkan jumlah bangunan yang terkena pembangunan jalan tol di Kelurahan Bugel sebanyak 17 unit, kelurahan Kauman Kidul 37 unit, dan Kelurahan Tingkir Tengah empat unit. Sedangkan tanah milik Pemkot Salatiga yang bakal terkena pembangunan jalan tolsebanyak 16 bidang seluas 62.995 m².(sas/fth)