PENCINTA VESPA: Ilham Saputra memamerkan medali dan piagam Leprid yang didapat atas prestasinya keliling Indonesia naik Vespa. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENCINTA VESPA: Ilham Saputra memamerkan medali dan piagam Leprid yang didapat atas prestasinya keliling Indonesia naik Vespa. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ilham Saputra, pemuda yang hobi mengotak-atik motor nekat keliling Indonesia sendirian mengendarai motor Vespa yang telah dimodifikasi. Perjalanan yang dimulai dari Sabang pada 24 September 2011 hingga Rabu (8/7) kemarin telah melahirkan banyak cerita menarik. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

BERANGKAT dari ketelatenan meng-custom Vespa, pria yang akrab disapa Ilham ini ingin bersilaturahmi dengan komunitas-komunitas Vespa di seluruh pelosok Indonesia. Obsesi itu diawali dengan memermak Vespa yang sekiranya bisa menampung aneka bekal selama perjalanan.

Pria kelahiran Cacang, Padang, Sumatera Barat, 30 September 1992 ini memodifikasi Vespa Super tahun 1972 hingga sepanjang 3,4 meter. Dia menambahkan pelat sebagai rangka, dan ditutupi dengan papan agar bisa membawa pakaian dan makanan. Tidak lupa, bagian atas juga ditutup bekas MMT sebagai peneduh.

”Saya juga bawa beberapa barang untuk diperdagangkan guna menambah uang saku. Barangnya diambil dari salah satu kota lalu dijual di kota lain,” paparnya.

Perjalanan yang ditempuh Ilham bisa dibilang nggelandang. Jika capek, biasanya hanya istirahat di pinggir jalan dan tidur di Vespa itu. Kalau isi dompetnya habis, Ilham rela bekerja membantu masyarkat atau menawarkan jasa bengkel untuk mendapatkan uang. ”Nah, dari situ, saya jadi bisa lebih mengenal karakteristik masing-masing masyarakat di daerah-daerah,” ungkapnya.

Selama perjalanan itu, Ilham paling betah di Flores. Hampir semua penduduk di sana sangat ramah. Ilham jadi merasa seperti di rumah sendiri. Disediakan tempat tinggal, kebutuhan hariannya pun dicukupi.

”Penghuni setiap daerah memang macam-amcam. Ada yang baik banget, ada juga yang kurang perhatian. Kemarin itu, ada yang sempat menawarkan tempat tinggal, dibelikan makanan, hingga bensin. Jadi kalau ditanya habisnya berapa, saya tidak bisa menghitung,” paparnya.

Hal yang sama juga terjadi di Manado. Bahkan Ilham betah berlama-lama di sana. Jika biasanya setiap provinsi hanya disinggahi 1-7 hari, dia tinggal di Manado hingga hampir sebulan. Pasalnya, Ilham kenalan dengan cewek cantik dan sempat dipacari. ”Namanya juga anak muda. Masak gak boleh pacaran. Kebetulan dia juga penjual nasi di daerah itu. Jadi sekalian pacaran, bisa makan gratis,” kenangnya sambil tertawa.

Di Lombok, dia juga pernah dikurung di Satlantas selama seminggu lantaran mengendarai motor yang memang menyalahi aturan. Padahal di provonsi-provinsi lain, tidak pernah ada masalah karena memang sudah mengantongi surat jalan. Tapi dengan hukuman itu, Ilham jadi punya banyak teman polisi di sana.

”Malah dekat dengan kepala polisinya. Bahkan pas pulang dibelikan bensin dan makanan,” cetusnya.

Sementara itu, dia juga banyak menyimpan pengalaman buruk ketika melintasi Kalimantan. Jalan rusak, melintasi hutan dan perbukitan sudah jadi hal lumrah di sana. Sialnya, Vespa bernomor polisi BA 7104 FL-nya tergolong jago mogok. Hampir saban hari, dia harus mendorongnya untuk mencari tempat yang enak untuk membetulkan.

Ilham juga pernah dipalak preman jalanan. ”Bukan begal sih. Hanya kumpulan preman saja. Mereka meminta uang, katanya untuk beli minuman. Daripada terjadi keributan, saya kasih saja. Toh tidak seberapa karena mungkin mereka tahu tidak ada yang bisa dirampas dari saya,” kenangnya sambil tersenyum.

Setelah menelusuri 31 provinsi, Ilham mengaku jadi lebih mengenal Indonesia. Wawasan kebangsaannya jadi lebih kuat karena terjun langsung ke lokasi. Mengenal karakter, budaya, dan adat istiadat di masing-masing daerah. Dari perjalanan itu, dia juga mendapatkan sertifikat dan medali dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid). Penghargaan tersebut diserahkan langsung Direktur Leprid, Paulus Pangka. (*/aro/ce1)