Pede dengan Moge

242
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

LAHIR sebagai gadis tomboi, Dian Rachmi mengaku getol dengan hal-hal yang berbau ekstrem, yang biasa dilakukan pria. Seperti touring mengendarai kendaraan roda dua. Tapi jangan salah, meski badannya terbilang ramping, pemilik postur tubuh 168 cm/50 kg ini doyan naik motor gede (moge).

Baginya, mengendarai moge bisa membuat makin pede. ”Sementara ini memang belum bisa beli moge. Tapi paling tidak, bisa merasakan kemewahan dan kenyamanan moge,” ungkap Sekretaris Komunitas Bikers Moge (KBM) Semarang ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dian memang tergolong lincah. Gadis kelahiran Pekalongan, 30 Oktober 1992 ini sudah berani touring hingga Jogjakarta naik moge. Dia sendiri sebenarnya tidak pernah menyangka punya kesempatan traveling penuh kesan itu.

”Dasarnya memang suka jalan-jalan. Terus beberapa waktu lalu diajak kakak kumpul-kumpul. Akhirnya, kenal dengan mereka yang punya moge. Kebetulan malam itu sedang rapat pembentukan panitia KBM. Eh, malah dapet hoki, ditunjuk sebagai sekretaris. Jadi deh, kesampaian touring rame-rame,” jelasnya.

Sejak saat itu sulung dari tiga bersaudara pasangan H Moch Alim dan Hj Sri Utami ini jadi getol mempelajari karakter motor berukuran jumbo tersebut. Saking totalitasnya, dia jadi semangat menabung demi bisa membeli motor yang minimal berkapasitas 400 cc itu.

”Penginnya tetap yang ada boncengannya. Jadi, kalau sewaktu-waktu capek di tengah jalan ketika touring, bisa switch sama teman. Gantian istirahat di belakang,” tutur Dian.

Di sisi lain, dia juga menyimpan obsesi memajukan komunitas motor di Semarang. Dian coba menggeser mindset bahwa kumpulan pencinta moge bukan gerombolan yang hanya bisa ugal-ugalan di jalanan.

”Saya pribadi, lebih suka berada di komunitas yang sopan dan menjunjung tinggi solidaritas kekeluargaan. Seperti di KBM ini,” katanya. (amh/aro/ce1)

Silakan beri komentar.