PANEN MELATI : Tingginga harga bunga melati membuat petani di Desa Denasri dan Depok, Kecamatan Kandeman, memanen lebih awal bunga melati. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANEN MELATI : Tingginga harga bunga melati membuat petani di Desa Denasri dan Depok, Kecamatan Kandeman, memanen lebih awal bunga melati. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Dua minggu menjelang hari raya Idul Fitri 1436 H, ratusan petani bunga melati di Desa Denasri, Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, melakukan panen lebih awal. Menyusul adanya kenaikan harga melati hingga Rp 22 ribu per kilogramnya dari harga semula yang Rp 12 ribu per kilogramnya.

Waryuni,48, petani melati Desa Denasri, Kecamatan Kandeman, Senin (7/7) kemarin, mengungkapkan kenaikan harga melati memberikan angin segar bagi ratusan petani melati.

“Naiknya harga bunga melati karena tingginya permintaan, terutama dari luar kota seperti Jakarta dan Surabaya. Ini membawa berkah bagi para pemetik kembang melati, karena upah bisa ikut naik hingga 50 persen lebih. Dari semula hanya Rp 6 ribu per kilogramnya, naik menjadi Rp 12 ribu per kilogramnya,” tuturnya.

Menurutnya harga bunga melati akan terus naik, hingga lebaran dua minggu. Karena itulah, agar bunga melati bisa segera dipetik, sebagian besar petani menggunakan obat demolicyn yang berfungsi memacu pertumbuhan tanaman bunga melati. Dengan ukuran satu botol 80 mili liter, obat tersebut disemprot pada tanaman melati seluas 0.5 hektare. “Disamping kebutuhan akan bunga melati meningkat, cuaca juga mendukung dengan minimnya curah hujan,” ungkap Waryuni.

Meski begitu, kata Ketua Asosiasi Petani Melati, Kabupaten Batang, Setiyono, naiknya harga bunga melati di saat panen raya, tidak didukung pabrik teh yang ada di Kota Pekalongan. Karena 10 hari menjelang hari raya Idul Fitri, sebagian besar pabrik teh sudah meliburkan karyawannya dan menutup pabrik lebih awal sebagai libur panjang lebaran.

“Naiknya harga bunga melati hanya sampai dua pekan setelah Lebaran, setelah itu harga melati kemungkinan akan kembali turun. Seiring dengan rendahnya permintaan,” kata Setiyono.

Sementara itu, Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, menuturkan Pemkab Batang akan membantu mempromosikan hasil pertani melati dan ikut menjualkannya melalui internet.

“Kami berharap, naiknya harga bisa terjaga. Demikian juga kualitas bunga melati tersebut terus membaik. Kami akan berupaya memperluas jaringan pemasaran,” tandasnya. (thd/ida)