KEKERINGAN : Warga Desa Jatirunggo mengambil air bersih dari sumber-sumber mata air yang mulai mengering. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEKERINGAN : Warga Desa Jatirunggo mengambil air bersih dari sumber-sumber mata air yang mulai mengering. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PRINGAPUS-Warga di Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, pada musim kemarau mulai mengalami krisis air bersih. Sejumlah mata air dan sumur-sumur warga mulai mengering.

Paling parah di Dusun Legaran Gunung, Desa Jatirunggo. Sudah dua bulan ini, warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, kalaupun ada air bersih harus dijatah atau dibagi merata kepada 55 kepala keluarga (KK) yang berjumlah sekitar 200 jiwa.

Salah seorang warga, Kasminah, 57, mengatakan bahwa sudah dua bulan ini warga merasakan dampak kekeringan akibat musim kemarau. Sejumlah sumber mata air bersih di Dusun Jatirunggo telah mengering. Sejumlah sumur milik warga juga tidak menghasilkan air bersih lagi. Kendati ada airnya, namun tidak mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga, seperti air konsumsi, mandi dan cuci.

“Ada sumber air yang jaraknya sekitar 3,5 kilometer dari Dusun Legaran Gunung dan sudah masuk ke Desa Tlogo Tuntang. Jaraknya lumayan jauh, daripada berebut di sana mendingan antre air di sumur Pamsimas yang jaraknya dekat, paling hanya bayar Rp 500 per jerigen,” kata Kasminah.

Koordinator Pengelolaan sumur Pamsimas Dusun Legaran Gunung, Nasihatun, 43, mengatakan, saat ini sumber-sumber mata air sudah mulai mengering. Sehingga warga kesulitan mendapatkan air layak untuk dikonsumsi. Saat ini yang menjadi andalan hanya di sumur penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang ada di dusun.

“Debit air di sumur Pamsimas ini juga sudah menurun drastis. Sehingga agar merata untuk mendapatkan air, sehari setiap warga dijatah 2 jerigen saja,” tutur Nasihatun, Senin (6/7) kemarin.

Pengambilan air di sumur Pamsimas juga dijadwal mulai pukul 06.00 sampai pukul 12.00 dan pukul 16.00. Tujuan penjadwalan pengambilan air ini dilakukan agar debit air sumur dapat memenuhi kebutuhan, sedikitnya untuk 200 warga di dusunnya.

Nasihatun menilai, krisis air di tahun 2015 ini adalah yang paling parah dari sebelumnya. Apalagi hingga saat ini belum ada bantuan dropping air bersih. “Setiap hari, puluhan jerigen antre. Kalau tidak digilir, ada warga yang tidak kebagian air bersih. Bahkan warga harus mandi di bak, sehingga air tidak terbuang,” ujar Nasihatun.

Krisis air juga terjadi di desa sekitar Jatirunggo. Bahkan sawah-sawah sudah mengering, hingga puso. Seperti di Desa Tlogo, belasan sawah mengalami puso karena tidak teraliri air. Para petani pun terpaksa memotong tanaman padi tersebut untuk pakan ternak.

“Jangankan padi bisa tumbuh dengan baik, cari rumput untuk ternak saja susah. Ini karena sangat kering tidak ada air, sehingga rumput saja sampai mati. Sekalipun ada air yang mengalir ke sawah, namun sangat kecil. Sehingga padi atau jagung mengalami kopong atau tidak ada bulir padi maupun jagungnya,” tutur Kasmadi, 31, warga Desa Tlogo. (tyo/ida)