Kekurangan 39 Ribu Dosen Kesehatan Jenjang S2

205
KUNJUNGAN: Menristek M Natsir (tengah) didampingi Ketua Yayasan Hasyim Asy’ari KH Musadad Syarif (dua dari kiri) dan Direktur RSI NU Demak, dr Abdul Aziz disela kunjungan ke rumah sakit NU kemarin. (Wahib pribadi/jawa pos radar semarang)
KUNJUNGAN: Menristek M Natsir (tengah) didampingi Ketua Yayasan Hasyim Asy’ari KH Musadad Syarif (dua dari kiri) dan Direktur RSI NU Demak, dr Abdul Aziz disela kunjungan ke rumah sakit NU kemarin. (Wahib pribadi/jawa pos radar semarang)

DEMAK – Banyaknya perguruan tinggi (PT) kesehatan di Indonesia ternyata masih belum diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang memadai. Sebab, masih banyak dosen kesehatan yang belum menapaki jenjang pascasarjana (S2) sebagaimana yang dibutuhkan dalam PT kesehatan.

Menteri Riset dan Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Prof Dr M Natsir mengatakan, sekarang ini PT yang membuka program studi (prodi) ilmu kesehatan tercatat masih kekurangan sebanyak 39 ribu dosen jenjang S2. Kebanyakan masih jenjang S1. Karena itu, kondisi tersebut cukup berpengaruh terhadap penyiapan ketersediaan SDM kesehatan yang memadai.

Secara umum, kementerian yang dipimpinnya bercita-cita dapat mencetak seribu mahasiswa tingkat doktoral selama 5 tahun kedepan, termasuk dalam bidang kesehatan. Ini untuk menghadapi berlakunya masyarakat ekonomi Asean (MEA) dimana diperkirakan banyak tenaga asing yang bebas bekerja di Indonesia dan sebaliknya. “Adanya kekurangan dosen S2 ini tentu harus kita atasi. Diantaranya dengan penyediaan beasiswa bagi dosen kesehatan agar percepatan SDM kesehatan ini tercapai. Tentu saja, kita juga mendukung penuh rencana berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) NU di Demak ini. Untuk kebutuhan Stikes itu, minimal harus ada 6 dosen sudah S2,” kata Menristek disela kunjungan kerja ke RSI NU Demak, kemarin

M Natsir menambahkan, selain SDM yang memadai, Stikes harus memiliki ruang perkuliahan yang baik dan mampu menunjang keberlangsungan proses pembelajaran. Dalam pendirian sebuah PT masih sering ditemui antara perizinan yang diajukan tidak sama dengan ketika beroperasi. Bahkan, banyak PT Politeknik Kesehatan (Poltekes) diberbagai daerah yang diajukan pendiriannya oleh Pemda banyak mengalami persoalan dalam operasionalnya. “Jadi, kondisinya la yamutu wal yahya (segan mati hidup tak mau. Karena itu, keadaannya antara hidup dan mati tidak jelas). Bisa dibilang semaput (pingsan),” imbuhnya.

Dia menambahkan, di Indonesia banyak pula rumah sakit yang kekurangan tenaga dokter, utamanya dokter spesialis. “Tentu, Kemenristek turut mendorong tersedianya SDM dokter ini segera terpenuhi,”katanya.

Direktur RSI NU, dr Abdul Aziz mengatakan, ketersediaan dokter di RSI NU Demak dinilai cukup memadai. Setidaknya, ada 15 dokter umum dan 20 dokter spesialis. Diantaranya, ada 3 dokter penyakit dalam dan 2 dokter anestesi. RSI NU ini juga menjadi jujukan para mahasiswa kesehatan yang praktik kerja lapangan (PKL). “Dalam setahun tercatat ada 1.024 orang mahasiswa yang PKL di RSI NU ini. Karena itu, untuk merespon kondisi ini, maka kita butuh PT Stikes,” katanya.

Ketua Yayasan Hasyim Asy’ari, KH Musadad Syarif mengatakan, Kementerian Ristek diharapkan bisa membantu pendirian Stikes NU, utamanya terkait sarana prasarana termasuk buku-buku yang dibutuhkan para mahasiswa. “Stikes ini nanti sangat butuh fasilitas perpustakaan dan sarana penunjang lainnya,” katanya.(hib/fth)

Silakan beri komentar.