Polisi Anggap Bukti Rekaman Video Belum Cukup

176

”Rekaman video itu belum cukup untuk bukti untuk menjerat AMT.”
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto

BARUSARI – Awak Mobil Tangki (AMT) yang diduga terlibat dalam penyelundupan solar ilegal di proyek Desa Tambakrejo, Gayamsari, Kota Semarang, lolos dari jerat hukum. Penyidik Reskrim Polrestabes Semarang mengaku kesulitan mencari bukti pidana untuk menjerat AMT yang melakukan praktik ’pencurian’ Bahan Bakar Minyak (BBM) solar bersubsidi tersebut.

Padahal penyidik juga mengantongi barang bukti berupa rekaman video saat terjadi praktik ’kencing’ solar tersebut. Namun demikian hal itu dirasa belum cukup bukti. Sehingga pihak AMT sejauh ini tidak terjerat hukum.

Penyidik Polrestabes Semarang sejauh ini hanya menetapkan satu tersangka yakni pria berinisial J, yang merupakan pengelola proyek di lokasi Desa Tambakrejo, Tambakrejo, Gayamsari, Kota Semarang. ”Rekaman video itu belum cukup untuk bukti untuk menjerat AMT,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (3/6).

Pihaknya mengaku masih lakukan pengembangan dan pendalaman untuk mencari bukti lain yang lebih menguatkan. Sementara, tersangka masih satu orang yakni J. ”Untuk J sudah cukup bukti. Ia juga sudah kami periksa sebagai tersangka,” kata Sugiarto.

Hasil pemeriksaan, tersangka J mengaku praktik penimbunan BBM solar tersebut dilakukan sejak tiga bulan terakhir. Meski ada dugaan bahwa praktik tersebut telah berlangsung lama. Selama prosesnya, J mengaku berkomunikasi dengan awak mobil tangki PT Pertamina yang mengangkut BBM solar bersubsidi tersebut. Tersangka kemudian memindahkan BBM solar tersebut menggunakan ember, kemudian ditimbun ke dalam drum. ”Tersangka J mengaku membeli Rp 150 ribu per ember. Lalu setelah ditimbun, tersangka menjualnya dengan harga Rp 200 ribu per ember,” terang Sugiarto.

Kencing solar ilegal tersebut dilakukan setiap hari. J diduga memasok solar untuk kebutuhan sejumlah pabrik di daerah pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Sejauh ini, tersangka J belum ditahan dengan alasan pasal yang digunakan adalah pasal 53 huruf c UU RI nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi dengan ancaman pidana 3 tahun penjara. Selain itu J dinilai kooperatif selama menjalani proses hukum. ”Ancaman hukumannya 3 tahun, tidak bisa dilakukan penahanan,” katanya.

Sebelumnya, tim Reserse Kriminal Polrestabes Semarang membongkar sindikat penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar bersubsidi milik PT Pertamina di lokasi proyek Tambakrejo, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Pengungkapan tersebut dilakukan pada hari Senin 29 Juni 2015, sekitar 08.00, berdasarkan nomor LP/A/188/VI/2015/Reskrim, tertanggal 29 Juni 2015.

Penimbunan solar tersebut dilakukan menggunakan truk tangki milik PT Pertamina dengan cara ”dikencingkan” kepada penimbun solar tanpa izin. Sebanyak 8 drum berisi BBM solar kurang lebih 1.600 liter, 40 drum kosong, 3 buah slang penyedot BBM, 1 alat pembuka tutup drum, 2 buah corong, disita sebagai barang bukti. (amu/zal/ce1)