Nur Kasiyan Menangis, Merasa Ditipu Siswoto

179

MANYARAN – Nur Kasiyan, mantan bendahara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, kembali menjalani persidangan dengan agenda pembelaan (pledoi) atas kasus dugaan korupsi dana bencana dari Thohir Foundation senilai Rp 190 juta dan bantuan Pemprov Jateng Rp 456 juta di Pengadilan Tipikor Semarang, Jumat (3/7).

Dalam persidangan tersebut, Nur Kasiyan terlihat menangis dan terbata-bata ketika membacakan nota pledoi pribadinya, sambil terisak ia memohon majelis hakim agar memberi keadilan pada dirinya.

Dia juga menyebutkan, sebagai kepala keluarga dan seorang suami dari tiga orang anak yang masih membutuhkan pendampingan. ”Kami mohon keadilan yang mulia,” ujarnya.

Selain itu, Nur Kasiyan meminta kepada majelis hakim dan jaksa penuntut umum (JPU) bisa membawa saksi Siswoto yang sudah tiga kali panggilan tidak pernah hadir. Ia berharap keadilan atas kasus yang menimpanya. Menurutnya kesalahan bukan murni dilakukannya sendirian.
”’Ada orang lain di luar sana yang bebas dan mendapat keuntungan besar. Uang sebanyak itu tidak saya gunakan untuk kepentingan pribadi tapi saya ditipu oleh Siswoto,” kata Nur Kasiyan di hadapan majelis hakim yang dipimpin Alimin R Sudjono.

Usai persidangan, Nur Kasiyan menjelaskan, dirinya berulang kali didatangi oleh Siswoto yang mengajaknya berbisnis galian C. Namun sudah disampaikan bahwa dirinya tidak memiliki modal. Dari sekitar dana Rp 600 jutaan itu, sedikitnya Rp 450 juta diduga dibawa oleh Siswoto yang hingga kini menghilang entah ke mana. ”Saya seperti digendam, beberapa kali ke Kendal tempat perusahaannya. Dari awal sudah saya sampaikan tidak ada modal. Dari bantuan sebanyak itu sekitar Rp 450 juta dibawa Siswoto dan sisanya untuk emergency response karena waktu Januari-Februari 2014 kan bencana banjir besar belum sempat saya buat laporannya,” ungkapnya.

Nur Kasiyan juga mengakui, terlalu terlena dengan uang yang ia gunakan, ia juga menyesali perbuatannya. ”Penting sekarang eling lan waspodo Mas, saya sudah terlalu di-block up di media tampil terus. Semoga Tuhan bisa menuntut saya, untuk kembali ke jalan yang benar,” sebutnya.

Dalam pledoi kuasa hukum terdakwa, Dody Ariandy mengatakan, nilai kerugian sebesar Rp 646 juta tidak relevan dan terlalu imajiner. Selain itu, Dody juga mengatakan, terdakwa sudah mengakui perbuatannya, terdakwa berlaku sopan di persidangan dan terdakwa masih memiliki anak-anak yang belum dewasa. Oleh majelis hakim kemudian menunda sidang dan akan kembali dibuka pada Kamis 9 Juli 2015 dengan agenda putusan. (bj/zal/ce1)