TERSINGGUNG: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin saat menginterogasi tersangka Auli Nuron. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERSINGGUNG: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin saat menginterogasi tersangka Auli Nuron. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Salah satu tersangka Auli Nuron, 28, warga Tumpang, Gajahmungkur, Semarang, mengaku menghabisi korban, Nuzul Rahma Yuda, 19, pelajar SMK Muhammadiyah 2 Semarang, setelah disebut dengan kata ”Ndes”. Auli tersinggung karena korban dinilai tidak sopan kepada orang yang lebih tua. Ia tersulut emosi kemudian mengeroyok warga Tumpang I RT 3 RW 9 Gajahmungkur, Semarang, yang juga tetangganya sendiri, bersama dua tersangka lain; Nando, 17, dan Fahri, 17.

Sempat terjadi kejar-kejaran, sebelum akhirnya tiga tersangka bersama-sama membabi buta memukuli korban menggunakan tangan kosong di depan Gedung Olahraga (GOR) atau tenis indoor Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada Rabu (1/7) malam sekitar pukul 22.30.

Auli mengaku tidak bermaksud menghabisi nyawa ataupun merencanakan pembunuhan terhadap Yuda. Ia mengaku kalap, lalu tersulut emosi saat itu juga.

”Korban saya pukul mengenai tengkuk di belakang telinga. Setelah itu dipukuli bersama-sama oleh Nando dan Fahri,” kata duda yang bekerja sebagai penjaga gudang di pabrik Saka Tinta Kalibanteng saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Jumat (3/7).

Ia mengakui, awalnya mereka bertiga memang mencari Yuda karena telah menendang adik tersangka Fahri, saat berada di masjid, hingga menangis. Fahri bermaksud meminta penjelasan kepada Yuda.

Akhirnya, tiga tersangka mengajak ketemuan dengan korban di warung nasi kucing dekat lokasi kejadian. Namun ketiganya terpancing emosi dan menganiaya korban.

”Saya memukul bukan terkait balas dendam soal masalah adiknya Fahri. Tapi memang emosi karena disebut ’ndes’ oleh korban. Tidak bermaksud membunuh, tujuannya hanya ngasih pelajaran aja. Dia tidak sopan, memanggil orang dewasa dengan sebutan ’ndes’,” kilahnya.

Usai menganiaya korban, tiga tersangka sempat pergi meninggalkan lokasi. Namun tak lama kemudian mereka sempat kembali lagi ke lokasi kejadian untuk melihat kondisi korban. Ia mengaku sebenarnya tidak tega. ”Makanya kami kembali lagi ke lokasi untuk memastikan kalau kondisi korban masih hidup. Saat itu korban memang masih hidup, tapi kondisinya lemas. Saya tidak tahu kalau kemudian meninggal,” katanya.

Setelah itu, mereka meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Kamis (2/7) sekitar pukul 06.30, korban ditemukan tewas terkapar oleh warga yang sedang jogging di sekitar lokasi kejadian. Aparat kepolisian sempat nyaris terkecoh. Sebab, kondisi korban secara fisik luar tidak mengalami luka akibat penganiayaan. ”Saya tidak kenal akrab dengan korban, hanya kenal biasa aja,” imbuhnya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin mengatakan, terungkap adanya unsur penganiayaan hingga menyebabkan Yuda tewas, setelah diketahui hasil visum et repertum dari dokter forensik RSUP dr Kariadi Semarang.

”Hasil visum menyatakan, korban meninggal akibat luka dalam. Di antaranya di tengkuk belakang, telinga kanan, terdapat buih di tenggorokan, serta terjadi penyempitan pembuluh darah atau gumpalan darah di jantung akibat luka bengkak,” terang Burhanudin.

Mengenai motif dalam kasus ini, lanjut Burhanudin, tersangka merasa tersinggung karena korban dinilai mengeluarkan kata-kata kasar. ”Tiga tersangka melakukan pengeroyokan secara membabi buta. Mereka mengira korban hanya lemas, namun ternyata meninggal,” bebernya didampingi Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto.

Para tersangka berhasil diungkap melalui barang bukti handphone BlackBerry milik korban yang ditemukan di lokasi kejadian. ”Tiga tersangka kami tangkap di rumah masing-masing,” katanya.

Dari tiga tersangka, dua di antaranya masih di bawah umur. Burhanudin menegaskan dua tersangka di bawah umur tersebut akan diproses sebagaimana undang-undang yang berlaku.

”Para tersangka dijerat menggunakan pasal 170 KUHP, yakni tentang tindak kekerasan yang menyebabkan matinya seseorang dengan ancaman hukuman selama-lamanya 12 tahun penjara,” ujarnya.

Tiga tersangka merupakan tetangga korban. Bahkan, Nando dan Fahri teman main Yuda. Mereka juga sama-sama ikut organisasi remaja di masjid lingkungan tempat tinggalnya. (amu/aro/ce1)