DALAM PERBAIKAN : Jalan alternatif Pekalongan hingga Batang, melalui jalan Seruni dan Jalan Yos Sudarso, hingga Jumat (3/7) belum bisa dilalui. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
DALAM PERBAIKAN : Jalan alternatif Pekalongan hingga Batang, melalui jalan Seruni dan Jalan Yos Sudarso, hingga Jumat (3/7) belum bisa dilalui. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

BATANG – Jalan alternatif Pekalongan menuju Batang yang selalu digunakan para pemudik khususnya dari arah Jakarta saat ini belum layak dilalui. Sebab proses betonisasi belum sempurna.

Jalan alternatif sepanjang 7 kilometer tersebut masih banyak yang berlubang dan belum sempat dilakukan perbaikan. Sehingga cukup berbahaya jika dilalui pemudik. Demikian juga dengan betonisasi yang baru dilakukan pada sisi kanan dan kiri belum dilakukan pengurukan tanah. Sehingga jika kendaraan roda empat terpeleset pada salah satu jalur beton, dipastikan mobil tersebut akan masuk ke kedalaman beton hingga 40 centimeter.

Siswoyo, 54, warga Jalan Seruni, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. Jumat (3/7) mengungkapkan betonisasi pada jalan alternatif dari Pekalongan ke Batang hingga kini belum layak dilalui pemudik.

Menurutnya hal itu karena banyak tumpukan material di sepanjang jalan dan adanya jalan berlubang yang belum sempat dibeton atau diperbaiki. “Yang lebih penting penerangan lampu jalan, untuk menerangi jalan berlubang yang belum diperbaiki, jumlahnya cukup banyak,” ungkapnya.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA), Kabupaten Batang, Ketut Mariajdi mengatakan perbaikan jalan berupa betonisasi pada jalur alternatif Pekalongan Batang dikerjakan oleh Pemprov Jawa Tengah.

Menurutnya jalan alternatif tersebut hingga kini belum bisa dilalui kendaraan roda empat, karena masih ada perbaikian di banyak titik, dan baru bisa dilalui setelah H-10 nanti. “Jalan alternatif Pekalongan hingga Batang, H-10 nanti sudah bisa dilalui. Tapi harus hati-hati karena kanan kiri beton masih dalam proses pengurukan tanah,” katanya.

Ketut juga menyesalkan, banyaknya kendaraan galian C yang membawa muatan di atas kapasitas, sehingga memparah kondisi jalan alternatif. Menurutnya setiap tahun miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki jalan rusak yang disebabkan oleh armada galian C tersebut. ”Pengguna jalan seperti dump truck pengangkut galian C dan kendaraan lain yang melebihi tonase, kendaraan tersebut sangat merusak jalan karena melebihi kapasitas jalan, padahal sudah jelas ada rambu–rambu larangan, tapi mereka tetap melanggar, kami harap ada ketegasan dari pihak yang berwajib untuk menertibkannya,” tegasnya. (thd/ric)