SEMARANG – Target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) diperkirakan akan sulit tercapai. Hal ini disebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional yang masih di bawah 6 persen. Padahal, tahun ini Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah (DPPAD) Jateng ditarget mendapat pemasukan Rp 4,7 triliun.

Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah (DPPAD) Jawa Tengah Hendri Santosa mengatakan, hasil kajian dari Universitas Diponegoro Semarang yang menyatakan pendapatan BBNKB tahun ini maksimal Rp 3,9 triliun itu asumsinya tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. ”Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini belum mencapai angka tersebut,” terangnya.

Ditambahkan Hendri, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) diketahui juga merevisi target penjualannya. Yakni diturunkan menjadi 16 persen. Menurutnya, revisi tersebut telah diputuskan melalui perhitungan yang matang.

”Keadaan semacam itu tidak hanya terjadi di Jateng. Di Jatim (Jawa Timur) angka penjualan kendaraan bermotor tahun ini diperkirakan sama dengan tahun 2012. Penurunannya cukup tajam jika dibanding tahun sebelumnya,” beber mantan auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jateng itu.

Kendati demikian, Hendri mengaku optimistis target pendapatan dari pajak dan piutang pajak kendaraan bermotor akan tercapai. Sebab, hingga Juni atau semester pertama 2015, pemasukan yang dihasilkan telah mencapai 51 persen. Artinya, pemasukan lebih dari setengah dari target yang ditetapkan.

Menurut Hendri, BBNKB dan pajak kendaraan bermotor itu berbeda. BBNKB berhubungan dengan pembelian kendaraan bermotor. Sementara pajak kendaraan bermotor bersangkutan telah membeli kendaraan. ”Kami juga telah menagihnya dengan program door to door,” tandasnya. (fai/ric/ce1)